Senin, 01 Juni 2020

MEMAKNAI NILAI PANCASILA DI ERA MILENIAL

MEMAKNAI NILAI-NILAI PANCASILA DI ERA MILENIAL
Sebuah Catatan Kilas Balik 
(Bagian 1)

Ingat waktu dulu masih Sekolah Dasar. Saya dan teman-teman hapal tanggal hari-hari besar nasional. Lelah setelah bermain menguji adrenalin dengan memasuki hutan, berenang di pantai, atau memanjat tebing, kami duduk beristirahat. Tiba-tiba ada yang ngajak main tebak-tebakan.Kala itu semua pelajaran bisa dijadikan permainan untuk ditebak. 


Jadi ingat lagi kala masih SD dahulu ada buku RPUL (Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap). Buku ini di dalamnya terdapat serba-serbi tentang pengetahuan umum menyangkut Indonesia dan beberapa gambaran tentang negara ASEAN. Ada juga buku RPAL (Rangkuman Pengetahuan Alam Lengkap) Dan tak kalah pentingnya juga ada Atlas dan kamus Bahasa Inggris. Siapa yang memiliki ke empat buku itu, sudah tentu akan memiliki pengetahuan yang lebih luas.

Saat mengadu kecerdasan, secara bergantian kami mengambil peran sebagai penanya dan penjawab. Yang akan ditanyakan bisa tentang ibu kota, nama gunung, sungai, barang tambang, nama menteri kabinet, pahlawan, dengan angka. Misalnya tinggi gunung, panjang sungai, tanggal lahir tokoh, lagu daerah. Ah, pokoknya lengkap. Tapi yang paling sulit adalah yang berkaitan nasional, dan yang serupa dengannya.

Siapa yang paling pintar, biasanya itu yang paling menonjol. Saya sendiri bukan anak yang pintar. Eiits... tapi bukan sebaliknya juga. 😍😆Untuk hal lain, saya bisa paling banyak akal di antara teman-teman. Mungkin itu pulalah yang menyebabkan mereka paling senang berteman dengan saya. 

Untuk dapat menjawab paling cepat, kami harus berkosentrasi saat baru saja pertanyaan dilemparkan penanya. Kami harus memastikan jawaban tidak saja cepat, tetapi juga benar. Jika jawaban benar, masing-masing kami bergaya, misalnya menepuk-nepuk dada, menari, atau berlompat -lompatan kegirangan. Semua itu kami lakukan semata-mata dalam rangka bermain sambil belajar.

Benar dan salah jawaban kami, selalu saja mengundang tawa. Terkadang ada pula yang menjawab asal karena sebenar tidak tahu jawabannya. Dipikirannya yang penting ikut bersuara. Soal benar salah itu nomor dua. Itu tak masalah buat kami. Kami hanya tertawa saja.

Inilah keindahan dari kebersamaan saat dulu menginjak masa anak-anak. Kemesraan dan kehangatannya masih terasa hingga kini. Tidak sekadar berteman dan bermain, kami bisa menghargai perbedaan dan keberagaman. Sikap itu tercermin langsung dari perilaku keseharian kami. Tanpa  skenario dan dramatisasi. Ia hadir dan terasa mengalir di dalam darah. 

Asyik bermain, tak disangka kami menghabiskan waktu hingga melewati satu jam, atau bisa juga dua jam. Ternyata banyak ilmu pengetahuan yang kami dapatkan. Hal itu terus kami lakukan  berulang ulang di saat-saat kami menginginkannya. Hingga kini, pelajaran umum dan ilmu pengetahuan alam tetap menjadi prioritas untuk tetap diketahui perkembangannya.

Dari sini, saya menyadari tentang banyak cara mengaplikasikan nilai-nilai dari butir-butir Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, bersosialisasi, bekerja sama, disiplin, saling tolong, bersikap santun, serta selalu menanamkan rasa hormat kepada guru dan  orang tua. Sikap-sikap terpuji ini hadir dan terbangun secara alami. Bukan sesuatu yang instan dalam pembentukan karakter.

Sikap-sikap terpuji ini selalu ditanamkan kepada kami sehingga ia melekat erat di dalam diri. Kami tidak sulit untuk mengerti akan kebaikan serta menjaganya tetap tumbuh. Karena jauh sebelum kami mengenal dunia bermain, pendidikan budi pekerti telah ditanamkan dari rumah sendiri, tetangga, maupun masyarakat.  

Benarkah zaman telah berubah?

Penanaman nilai moral yang sudah sedemikian baik itu kini mulai bergeser dan perlahan-lahan menjauh. Sikap dan perbuatan sebagaimana yang saya ke tengahkan di atas terasa telah mulai menurun. Banyak orang mengira ini karena jaman telah berubah, berubah pula tatanan dalam pembentukan karakter. Egosime pun semakin besar. Nasionalisme sering menjadi terabaikan. Apa benar demikian?

Lihatlah anak-anak kita, para pembelajar!  Mereka cenderung lebih suka menghabiskan waktu selama berjam-jam bermain games online melalui ponsel yang mereka miliki. Sudah jarang terlihat mereka  melakukan uji adrenalin dan ketangkasan di alam bebas seperti dulu. Enggan duduk bersama dengan teman sebaya untuk belajar dan berbagi. Yang ada mereka lebih suka bersendirian  dengan hal mereka masing-masing di dunia maya. 

"Generasi milenial" tampaknya sudah banyak disalahmengerti oleh sebagian besar generasi muda kita. Banyak anak-anak kita yang eksis di dunia maya, tetapi kenyataannya mereka hilang dari dunia nyata. Mereka terlena dengan gadget, namun tidak mengambil kesempatan untuk melakukan hal-hal yang positif darinya. Ini sebaliknya tentu akan dapat membawa pengaruh negatif bagi diri mereka. Mereka semua mungkin saja adalah anak-anak kita hari ini dan masa mendatang. Lalu, akan jadi apa generasi kita  ke depannya?

(bersambung…)

Selamat Hari Lahir Pancasila ke-75 (1 Juni 1945 - 1 Juni 2020)

2 komentar: