Selasa, 07 Juli 2020

Problema Dunia Penerbitan di Tengah Pandemi Covid-19

Problema 'Jatuh Bangun' Dunia Penerbitan di Tengah 'Badai' Pandemi Covid-19 


Dari Kuliah Online Grup Whatsapp Belajar Menulis PGRI 
Bimbingan Wijaya Kusuma (Om Jay) 
Hari/ Tanggal : Senin/ 6 Juli 2020

Pemateri : Edi S. Mulyanta 
(Manager Operasional Penerbit Andi Yogyakarta) 

Penulis Resume : Hamdani


FOTO EDI S. MULYANTA


Belajar menulis malam ini kembali diisi oleh Bapak Edi S. Mulyanta (Manager Operasional Penerbit Andi Yogyakarta).

Beliau kembali mengulangi kekhawatirannya akan problema yang muncul terdampak pandemi Covid-19. Kekhawatiran yang tampaknya sangat beralasan karena majunya usaha penerbitan sangat bergantung dengan faktor ekonomi dan kenyamanan di masyarakat. 

Kegalauan Dunia Penerbitan di Tengah Melemahnya Omzet penjualan Buku 

Dunia penerbitan saat ini, menghadapi sebuah persoalan besar dan belum ada kepastian kapan pandemik Corona berakhirnya? Setelah pertemuan pertama, Edi S. Mulyanta sempat menyampaikan kekhawatirannya tentang hidup mati dunia penerbitan selama pandemi covid-19, kali ini ia kembali buka-bukaan soal dapur penerbitan yang dikelolanya.

Dunia penerbitan adalah dunia bisnis semata, yang tentunya diikuti dengan idealisme di dalamnya. Dalam dunia bisnis, hal yang paling utama dicari adalah keuntungan atau dapat dikatakan 'berujung pada uang' atau UUD' (ujung-ujung nya duit). Dalam hal ini, besarnya hasil yang diperoleh dari penjualan buku adalah kehidupan bagi usaha penerbitan.


Outlet utama bisnis penerbitan buku adalah toko buku. Ia menjadi soko guru dari bisnis ini. Sehingga ketergantungan ini sudah menjadi suatu ekosistem yang khas. Jika outlet maju, atau maka usaha penerbitan juga maju. Bahkan, tidak para penulis buku juga adalah orang yang sama diuntungkan. 

Pandemi ini betul-betul meluluhlantakkan semua bisnis, walaupun tidak semuanya terdampak, akan tetapi dunia penerbitan menjadi salah satu yang terdampak cukup signifikan.

Pada bulan Januari 20-Februari 2020 omzet penjualan dari toko buku masih sangat normal. Tidak ada tanda-tanda akan terjadinya pusaran badai yang tidak terduga seperti saat ini. 

Setelah Presiden Jokowi mengumumkan Corona mulai mewabah di Indonesia, benih badai besar ini benar-benar telah tersemai, dan membesar dengan deret multiplikasi yang luar biasa. 

Semua lini kegiatan mendadak terhenti. Ia pun mengilustrasikan laju bisnis diibaratkan kendaraan yang sedang bergerak dengan gigi ke5, mendadak harus mengerem dan mengganti gigi ke gigi paling rendah yaitu gigi-1. Beberapa kali perusahaan berpikir harus memarkirkan 'kendaraan' bisnisnya untuk sementara waktu, sambil melihat keadaan.

Dengan berlakunya PSBB di beberapa daerah, dengan otomatis toko buku andalan penerbit yaitu Gramedia, memarkirkan bisnisnya di sisi pit stop, artinya terhenti sama sekali. Dari omzet normal dan terhenti di pit stop menjadikan omzet terjun bebas berkisar 80-90% penurunannya.

Outlet yang tertutup, menjadikan beberapa penerbit ikut terimbas, sehingga harus mereposisi bisnisnya kembali. Hal ini berdampak secara langsung ke produksi buku, hingga ke sisi penulis buku yang telah memasukkan naskah ke penerbit menanti entah kapan akan bersemi di toko buku.

Secercah Harapan yang Kembali Memudar 


Setelah 3 bulan parkir di Pit stop, tampaknya secercah harapan muncul di tengah badai yang tidak menentu, setelah beberapa daerah memetakan pandemi dengan baik, dan mencoba berani untuk bergerak.

Di bulan juni-juli, saat ini dapat dikatakan Gramedia sebagai outlet toko buku telah mulai membuka gerainya hingga mencapi angka di 80% di seluruh Indonesia, berakibat bergeraknya kembali semangat penerbit-penerbit untuk memulai New Normal.

Rebound yang terjadi ini menuntut penerbit untuk cepat memutuskan apakah melaju kembali ataukan menunggu terlebih dahulu keadaan menjadi lebih pasti. 

Melaju, tentunya butuh dana, sementara roda cash flow hampir terhenti 2 bulan hingga 3 bulan, sehingga gambling keadaan pun terjadi. Banyak penerbit yang telah kehabisan nafas, sehingga tetap memutuskan untuk memarkirkan 'kendaraan' bisnisnya sambil menunggu keadaan membaik.

Sementara itu, jika penerbit tidak segera mengambil kesempatan untuk mengisi pasar, tentunya akan semakin terpuruk. Lalu demi sedikit memperbaiki keadaan, penerbit bekerja kembali memetakan buku-buku apa yang masih dapat dikembangkan saat keadaan chaos seperti ini.

Langkah Bertahan demi Menghadapi Masalah Keruntuhan Usaha Penerbitan

Salah satu usaha yang dijalankan oleh penerbit demi memperbaiki situasi turunnya penjualan buku adalah dengan mengidentifikasi tema buku yang masih memiliki peluang untuk dipasarkan. Hal tersebut menjadi sangat penting saat keadaan chaos seperti ini. Beruntung tema-tema yang up to date mengenai virus corona,  dikerjakan dengan cepat oleh penulis-penulis sebelumnya. Sehingga penerbit  mendapatkan bahan-bahan buku dengan tema anyar.

Kesiapan penulis dalam memilih tema/ materi yang akan dibukukan, menjadi tantangan tersendiri, mengingat bahan-bahan sumber rujukan masih belum tersedia dengan mudah. Sang Manager Operasional Penerbitan dan tim mempunyai database penulis yang cukup baik, sehingga dengan cepat bisa mengidentifikasi siapa penulis yang berkompeten di bidang ini. Dengan secepatnya pula mereka meramu materi, kemudian launching, dan beruntung mendapatkan sambutan yang baik di tengah masyarakat.

Keputusan-keputusan strategis diperlukan, mengingat ketidak pastian yang sangat besar untuk memproduksi buku. Penerbit Andi memarkirkan mesin-mesin, hampir 50%, untuk mengurangi beban biaya produksi. Otomatis tenaga kerja yang menggerakkannya dikurangi jam kerjanya walaupun tidak begitu drastis.

Buku-buku pendidikan, tetap prioritas untuk dipertahankan produksinya. Karena buku-buku ini tidak lekang oleh keadaan apapun. Sehingga produksi lebih dikonsentrasikan ke buku pendidikan yang mempunyai pasar yang sangat stabil setiap tahunnya.

Hikmak di Sebalik Ujian Tuhan

Banyak hikmah yang didapat kali ini. Wabah Corona telah mengajarkan banyak hal. Di satu sisi, penulis menjadi subjek yang harus selalu siap untuk mendapatkan peluang yang mungkin tidak diperkirakan sebelumnya. Penguasaan materi, penguasaan penguraian materi, eksekusi penulisan, hingga penawaran ke penerbitan diperlukan kelihaian tertentu.

Penulis yang siap menerima kesempatan ini, tentunya adalah penulis yang selalu berlatih untuk selalu mengeluarkan bahasa lisan ke dalam bahasa tulisan. Sehingga dapat mudah dimengerti oleh pembacanya. Tentunya tulisan itu adalah tulisan dengan struktur baik, dan tidak ada distorsi makna yang sampai ke pembacanya.

Edi S. Mulyanta menyegarkan para pembelajar di grup whatsapp belajar menulis yang dikelola Om Jay ini. Ini wahana belajar dan berlatih yang luar biasa bagus. Ini merupakan sebuah terobosan baru dan kreatif untuk menyiapkan skill seseorang dalam mengungkapan apa yang dipikirkannya. Lalu ditulis menjadi buku, kemudian dapat diinterpretasi oleh para pembaca.

Menulis dan Menerbitkan Buku memerlukan Proses

Menulis dan menerbitkan buku  memerlukan proses, latihan, kerja cerdas, dan kemauan yang keras. Komunitas belajar menulis seperti yang dimotori oleh Bapak Wijaya Kusuma (OmJay) dapat dijadikan sebagai wadah/ tempat berlatih menulis. Di sini bahkan, para pembelajar akan dilatih dan diberi semangat oleh para ahli di berbagai bidang keilmuan dan terutamanya adalah penggiat literasi. Mereka semua adalah para ahli yang sudah malang melintang di bidangnya. Tidak kurang juga, para pembelajar yang sudah terlatih diberi berkesempatan untuk menunjukkan kebolehan dan pengalamannya sebagai narasumber. Ini menjadi nilai tambah dalam meningkatkan kemampuan yang tidak hanya sebagai penulis,  namun sebagai pembicara. 

Peluang tidak selalu ada. Menulis perlu latihan, latihan perlu waktu perulangan secara rekursif (looping) yang berkali-kali. Sehingga kita akan semakin lihai dalam mengolah kata yang dirangkai dalam tulisan. Bakat yang dimiliki seseorang hanya 1%, sisanya adalah kerja keras, tekun dan berlatih menulis. 

Blog dapat dijadikan sarana yang sangat bagus untuk mulai menulis. Karena di dalam blog tidak ada penolakan kejam seperti penerbit menolak tulisan yang ditawarkan oleh penulis. 

Penerbit akan selalu melihat sisi ekonomi dalam setiap tulisan yang masuk. Sehingga kemurnian keputusannya, lagi-lagi di dasarkan oleh bisnis semata. 

Ada kalanya, tulisan yang luar biasa masuk ke penerbit, malah tidak terlihat oleh penerbit. Ini karena penerbit lebih melihat business process-nya saja, bukan writing process-nya.

Dengan sudut pandang ini, Edi S. Mulyanta meminta para penulis yang ingin menerbitkan buku, sedikit berempati kepada penerbit yang merupakan penjual komoditas tulisan ini. Empati yang harus dilakukan adalah, mencoba melihat visi misi penerbitannya. Kebiasaan tema-tema yang diterbitkan oleh penerbit. Intip juga buku-buku best sellernya yang biasanya dipampang di toko buku di rak Best Seller.

Edi S. Mulyanta sebagai Manager Operasional Penerbit Andi Yogyakarta beserta tim-nya, juga pernah melakukan sebuah perencanaan yang matang, untuk membuat buku yang best seller. Beliau memilih tema yang luar biasa berbobot. Penulisnya pun cukup disegani karena pernah menang penghargaan di dunia internasional. Perusahaan melakukan 'push' pemasaran dengan luar biasa. Akan tetapi.. Hasilnya cukup mengecewakan.

Tidak ada buku best seller yang by design. Tidak ada buku yang sengaja dirancang atau didesain supaya laku keras. Buku yang laku keras itu adalah buku yang blessing.

'Laskar pelangi' saat awal terbit, penulisnya tidak menyangka bukunya akan booming. Di awal pemasarannya, sungguh mengecewakan... dan meledak karena kekuatan word of mouth, alias dari mulut-kemulut, dari komunitas satu ke komunitas lain. Kemudian di-trigger dengan sebuah peristiwa yang tidak disangka-sangka yaitu Muktamar Muhammadiyah. Terjadilah ledakan viral. seketika saja buku tersebut menjadi best seller. Tidak ada desain awal, tidak ada perencanaan untuk menuju best seller.

Dengan berbagai pengalaman ini, komunitas belajar menulis merupakan wahana yang baik dalam mengelola tulisan. Di sini, pejuang literasi yang puritan seperti Bapak Wijaya Kusuma (Om Jay), dapat memberikan angin segar untuk tumbuhnya penulis-penulis baru yang tangguh dan tidak cengeng dengan penolakan penerbit. Akan tetapi, tetap berkarya hingga menghasilkan tulisan yang khas. Punya karakter sendiri dan tentunya di tunggu kehadirannya oleh pembaca dan penerbit tentunya.

Para pembelajar dapat memulai tulisan dengan tema yang  disukai dan dikuasai. Ia menyarankan agar tulisan ditulis dengan terstruktur, dimuat di blog pribadi dan  pertama disebarkan di lingkungan teman.

Jika sudah Percaya Diri, buatlah proposal ke penerbit yang isinya garis besar tulisan yang dapat ditawarkan ke penerbit. Penerbit akan melihat Tema, Judul Utama, Outline tulisan, pesaing buku dengan tema yang sama, positioning buku (harga, usia pembaca, gender, pendidikan, dll). Jangan lupa berikan alasan mengapa buku tersebut ditulis. Bapak ibu dapat sedikit "Ngecap" supaya penerbit tertarik dengan tulisan yang dibuat. 

Penerbit bukan maha tahu. Penerbit berbisnis didasarkan pada data historis penjualan. Jadi penerbit itu tidaklah menjadi yang selalu benar. Penerbit biasanya menjadi kurang berani dengan penulis-penulis perintis dengan tema yang belum terekam di data penerbit. Jadi, proposal permohonan adalah hal yang prinsip untuk diberi perhatian khusus. 
Selanjutnya, untuk menyadarkan penerbit akan tema yang diangkat oleh penulis. Ia mengingatkan agar para penulis buku merencanakan tulisan serta proposalnya dengan sebaik-baiknya. 

Dalam kesempatan ini, Edi S Mulyanta berulang-ulang memberi semangat bahwa grup whatsapp yang dikelola oleh Om Jay, merupakan sarana latihan yang luar biasa demi menyiapkan skills untuk menjadikan pesertanya sebagai penulis hebat. Mampu mengungkapan apa yang dipikirkan dan menjadikannya tulisan yang renyah dibaca. Lalu mendapat interpretasi yang baik pula dari pembacanya.

Tulislah rencana penulisan dengan matang sebelum dikirim ke penerbit. Begitu pula dalam memperhitungkan target market yang dituju. Lebih baik lagi jika penulis menawarkan tentang rancangan pemasarannya. Karena pemasaran di era new normal lebih unik dan sangat berbeda dengan di era normal sebelumnya

Terobosan Baru dalam Penerbitan Buku di Era Pandemi

Edi S. Mulyanta menyampaikan, ke depannya buku-buku mungkin akan disalurkan ke media e-book. Untuk media printing offline mungkin akan semakin berkurang jumlahnya.  Ke depan, media-media selain buku akan semakin banyak menghiasi dunia pendidikan. Ia menyarankan agar para penulis dapat mempersiapkan hal ini dengan baik. Ini sangat membutuhkan kecakapan yang berbeda dari yang sebelumnya.

Edi S. Mulyanta juga terus mengimbau para penulis (pemula) untuk tetap mendokumentasikan keilmuannya. Dengan dokumentasi yang terstruktur, pembaca akan dapat mewarisinya dan mengembangkannya di kemudian hari. Ilmu dan gaya kepenulisan seseorang, akan menjadi Immortal yang tidak lekang oleh perubahan jaman. Ia akan selalu dikenang menjadikan legacy bagi generasi berikutnya (anak cucu). 

Di masa yang akan datang, generasi kita akan dapat menelusuri jejak langkah/ dokumenter sang penulis (Anda) dalam bentuk tulisan. Tulisan yang membuat pengarangnya menuju keabadian.

Format Proposal dan Jalur Penerbitan

Sebelum proposal tulisan diajukan ke penerbit untuk dijadikan buku, ia juga mengingatkan tentang ketentuan yang perlu diperhatikan agar tulisan segera mendapat respon penerbit. Format proposal yang dikirimkan itu adalah Judul Buku, Outline Rencana Buku dalam bantuk bab dan sub bab, Sinopsis Buku, CV Penulis. Sertakan pula sampel bab yang sudah ditulis minimal 1 bab, sehingga memudahkan bagian editorial memperkirakan kemampuan editing mandiri penulisnya.

Mengenai proses editing, review sebuah naskah buku berjalan dalam tenggang waktu lebih kurang 1 bulan. Proses editing selama 1 bulan, praproduksi layout cover selama 1 bulan, dan proses produksi juga 1 bulan. Penulis mempersiapkannya menyerahkannya dalam bentuk file Word, tidak perlu membuat cover karena cover akan dibuat oleh team desain penerbit.

Untuk teknis pengeditan yang akan dilakukan oleh penerbit, penulis hanya perlu  mengirimkan judul, kata pengantar, prakata, daftar isi, isi buku, sinopsis, dan tentang penulis.

Terkait pembiayaan untuk membuat buku, penulis tidak dipungut biaya sedikit pun. Setelah naskah selesai diedit dan dijadikan buku, lalu penulis akan mendapatkan royalti dari hasil penjualan sebesar sepuluh persen per 6 bulan. 

Dimaklumkannya juga bahwa banyaknya naskah yang masuk ke penerbit Andi setiap bulannya, bisa mencapai 150-300 judul. Pihak perusahaan biasanya  akan menyeleksi 10-15 persen dari naskah yang masuk tersebut untuk diolah menjadi buku. 

Selanjutnya, tentang ketentuan penulisan naskah, penerbit Andi  biasanya menggunakan kertas ukuran Unesco 16x23 cm, dengan jumlah halaman 125-200 halaman. Namun bagi penulis yang memproduksi tulisannya di kertas A4 atau A5, beliau memperbolehkan juga. 

Terobosan dalam Menjawab Tantangan Masa Depan

Ke depannya, Penerbit Andi akan membuat apps untuk merekam data proposal. Penulis dapat langsung menulisnya lewat gadget. Ini bertujuan untuk memudahkan dalam menampung proposal yang sangat banyak setiap bulannya.

Sebelum ini, biasanya pihak penerbit merespon Proposal yang diterima saja. Untuk yang tidak diterima biasanya tidak direspon (3 bulan dead line). 

Tingkat penolakan proposal menjadi sangat tinggi, nyaris mendekati 85%. Ini dikarenakan penyelesaian proposal terdahulu yang secara historis tidak berhasil menjadi buku. Lalu dengan membuat apps proposal, pihak penerbit dan penulis akan lebih gampang memantau perkembangan dari sebuah tulisan.

Dengan Apps yang ada di play store, para pengguna sudah dapat meng-instal-nya dari HP. Reminder-reminder tahap 2 penulisan buku akan diberikan melalui aplikasi ini. 

Apps proposal ini rencananya bulan depan sudah bisa terwujud. Dengan ini, pemantauan penulisan akan bisa terjadwal dengan baik. Tenggang waktu 3 semester yang disediakan untuk menyelesaikan buku, adalah waktu yang cukup panjang. Setelah itu jika melewati deadline 3 semester, barulah secara otomatis akan gugur proposalnya.

Kanal e-book juga akan dibuka produksinya melalui Google Play/ Google Books. Ini dimaksudkan agar tingkat penerimaan naskah akan semakin besar melalui outlet e-book. 

Namun yang lebih utama dari itu semua adalah dengan dibukanya kanal e-book, tingkat terbit buku diharapkan akan semakin besar. Promo akan dilakukan oleh pihak penerbit. sementara penulis diminta untuk membantu mempromosikannya. 

Saat ini, promosi dapat dilakukan dengan webinar-webinar yang dikomandani oleh pihak penerbit. Penerbit juga menyediakan aplikasi Zoom hingga 300 peserta. Ia mengajak peserta pelatihan ini mempergunakan secara maksimal sebagai tempat promosi.

Dengan menggunakan apps, nantinya dialog bisa terjadi sehingga memungkinkan untuk mengubah alur proposal dan bisa lanjut ke proses penulisan.

Sesuatu yang tidak mudah dimengerti oleh banyak penulis pemula dan sering menjadi pertanyaan, yaitu tentang maksud dan kegunaan dari proposal. Mengirimkan proposal ke penerbit, sebelum buku rampung ditulis, sebenarnya bertujuan memberikan kesempatan bagi penulis untuk berlatih mengikuti prosedur dalam penulisan yang benar. Dengan mengikuti alur proposal, penulis kemudian dapat dengan mudah membuat sendiri alur bukunya. Penerbit pun menjadi lebih mudah dalam me-review-nya
Namun seandainya buku sudah siap ditulis, karena ini akan lebih baik. Tidak lagi perlu mengirimkan proposal. 

Edi S. Mulyanta⁩ mempersilakan para penulis mengirimkan rencana proposalnya ke email edis.mulyanta@gmail.com. Dunia tulis menulis tidak akan mati, terus berkarya bagaimanapun keadaannya. 

Terakhir, Edi S. Mulyanta memberikan penguatan kepada para penulis pemula,  supaya bisa menampilkan tulisan di google play dan terjual secara daring di sana untuk mengawali langkah bertepatan pandemi yang belum berakhir. 
-----

Jumat, 03 Juli 2020

MENJADI GURU 'PENULIS' PRODUKTIF

Dr. NGAINUN NAIM

MENJADI GURU 'PENULIS' PRODUKTIF
(Pakar Literasi Dr. NGAINUN NAIM)

Kuliah Online Group Menulis PGRI
Bersama Bapak Dr. Ngainun Naim
Hari/ Tanggal : Jum'at, 3 Juli 2020
Pukul: 19.00 s.d. 21.00 WIB

(Penulis Resume : HAMDANI)

MENJADI GURU PENULIS PRODUKTIF

Guru adalah kunci penting dalam dunia pendidikan. Jika guru berkualitas, besar kemungkinan kelas yang diajar juga akan berkualitas. Tapi jika gurunya kurang berkualitas, tentu hasil pembelajarannya juga kurang sesuai dengan harapan. 

Salah satu kunci penting peningkatan kualitas guru adalah dengan membangun budaya literasi. Literasi berarti budaya membaca dan menulis.

Seorang guru yang mau terus membaca buku dan menulis, memiliki peluang untuk semakin meningkat kualitas dirinya. Semakin banyak buku yang dibaca, semakin banyak karya yang akan dihasilkan. Hal ini dapat memberikan kontribusi penting bagi kemajuan pendidikan.

KUNCI KESUKSESAN MENUJU PENULIS PRODUKTIF

Secara umum, yang dimaksud dengan kunci adalah alat untuk membuka. Dalam hal menulis, tujuan kunci ini adalah untuk melahirkan guru-guru yang produktif. Kunci hanya menjadi sebatas benda mati jika tidak difungsikan. 

Keterlibatan seluruh peserta di dalam grup menulis ini ibaratnya telah mendapatkan kunci. Namun, jika kunci yang telah berada di tangan tapi tidak digunakan, maka kunci itu bisa menjadi tidak berarti. Bahkan menjadi tidak bermanfaat bagi yang memilikinya.

Adapun kunci terpenting agar produktif dalam menulis adalah : 

A. Mengetahui motivasi diri dalam menulis

Apa yang memotivasi seseorang untuk bisa menjadi penulis sangatlah beragam. Di antaranya adalah :

[1]  Motivasi Karir 

Implikasi yang menunjukkan bahwa  seseorang ingin menulis demi karir, akan terlihat dari antusias peserta yang ingin mendapatkan sertifikat.Semakin sering seseorang mengikuti kegiatan pelatihan (workshoop atau seminar), maka semakin ia akan terlihat semakin mahir dalam menulis. 

 [2] Motivasi Materi 

Menulis itu menghasilkan honor. Bagi penulis yang sudah sangat terkenal, honor memang lebih menjadi prioritas. Buku yang dihasilkan ibarat mesin pencetak uang yang terus mengalami cetak ulang. 

Namun jumlah mereka yang beruntung dari sisi ini tidak terlalu banyak. Sebagian besar penulis justru kurang mendapatkan perhatian dari sisi materi.

[3] Motivasi Politik 

Menulis sering pula ditujukan untuk mencapai tujuan politik tertentu. Dari menulis di media cetak dan eletronik, seseorang bisa mempengaruhi banyak orang secara politis.

 [4] Motivasi Cinta 

Ini adalah motivasi menulis yang terlahir dan tumbuh dari perasaan cinta, ingin mengagungkan, dan menyayangi sesuatu. Sepertinya, motivasi menulis yang satu ini tidak sekadar cinta pada kegiatan menulis. Bisa saja, perasaan cinta kepada seseorang mendominasi niat dan motivasi seseorang untuk melahirkan sebuah tulisan.

Nah, kita bisa memilih jenis motivasi menulis di atas. Jika perlu, kita juga bisa menambah jenis motivasi yang lain. Namun perlu diingat bahwa apa pun motivasi yang dipilih maka akan mempengaruhi terhadap tulisan atau buku yang akan dihasilkan.

B. Meyakini bahwa menulis itu adalah anugerah Tuhan 

Memiliki keinginan dan mampu menulis itu adalah sebuah anugerah dari-Nya. Banyak orang yang mau menulis tapi tidak mampu melakukannya. Ada saja yang menjadi batu penghalangnya. Yang paling banyak, faktor kesibukan selalu dijadikan alasan. Di samping berbagai alasan yang lainnya, yang sering menghentikan langkah dan keinginan. 

Sebaliknya, banyak pula yang sesungguhnya mampu menulis tetapi tidak mau menulis. Karena itulah bisa menulis (bagi ...) adalah anugerah luar biasa yang harus disyukuri. Cara mensyukurinya adalah dengan terus menulis.

Sudah sejauh mana kita menjadikan menulis sebagai sebuah aktivitas? Coba sekarang ingat sejak kamu sudah mulai tahu menulis. Contoh yang sederhana, jika yakin kamu sudah mulai menulis sejak diajar di Sekolah Dasar, tapi mengapa sekarang ada yang mengaku nggak bisa menulis? Terus yang selama itu, dulu pernah ada ratusan atau ribuah halaman yang ditulis. Lalu kira-kira itu apa namanya? 

Persoalan menulis memang tidak sesederhana seperti yang kita bahas di atas. Sekarang mari kita urai mengapa masih saja ada yang 'kesulitan menulis'. 

Ada beberapa kemungkinan yang mengakibatkan persoalan itu muncul, di antaranya:
[1] Selama ini belum pernah menulis makalah. Hanya bisanya mem-foto kopi saja:
[2] Tidak menulis karena dibuatkan oleh orang lain.
[3]Menulis dengan sistem “kanibalisme” tulisan orang lain. Mendapatkan bahan tulisan yang diambil dari googe lalu dipotong sana-sini sampai berbentuk layaknya tulisan.
[4]Begitu mendapatkan tugas langsung 'berburu' referensi (bahan bacaan). Tidak berusaha berpikir dahulu tentang apa yang harus ditulis.

Menulis itu membuat kita menjadi berbeda dibandingkan orang lain. Sesederhana apa pun buku yang kita hasilkan itu, tetap memiliki kontribusi penting. Jangan dengarkan 'nyinyiran' yang tidak konstruktif. Selama kita terus menulis, maka akan menjadikan kita sebagai makhluk yang berbeda dengan yang lainnya.

C. Menulis memberikan banyak "KEAJAIBAN" dalam hidup.

Menulis itu memberikan banyak sekali manfaat. Pak Wijaya Kusumah--Omjay-- seorang guru blogger, youtuber mengatakan bahwa menulis setiap hari itu telah memberikan keajaiban dalam kehidupan.

Coba kita simak apa saja bentuk keajaiban yang beliau rasakan karena menulis.
[1] Kita mendapatkan banyak materi. Lalu, karena rajin menulis, buku kita 
     mendapatkan banyak royalti.
[2] sering diundang sebagai pembicara di berbagai forum.
[3] memiliki banyak teman. 
[4] Bisa membeli peralatan yang dibutuhkan dalam kehidupan. 
[5] tulisan adalah alat perekam kehidupan yang ajaib.

D. Tidak mudah menyerah

Banyak orang ingin menulis, termasuk menulis buku, tetapi semangat menulisnya naik turun atau perlahan-lahan memudar dan bahkan hilang sama sekali. Saat bersemangat, menulis berlembar-lembar halaman dalam sehari terasa ringan. Saat tidak bersemangat, satu paragraf pun terasa berat sekali. Bahkan sangat mungkin berbulan-bulan tanpa menulis sama sekali.
Menulis lima paragraf yang dilakukan rutin setiap hari jauh lebih baik daripada sepuluh halaman yang dilakukan tiga bulan sekali.

E. Lakukan jejaring sosial

Jadi penulis jangan 'menepi'. Atau membekukan kelebihan yang dimiliki. Bangun jejaring kepenulisan. Ikut dan pro aktif dalam kegiatan bersams yang dapat membangkitkan semangat dan menambah wawasan menulis.  

F. Lakukan menulis sebanyak yang bisa

Menulislah setiap hari tanpa henti. Lakukan secara terus-menerus. Jika kamu merasa tulisanmu belum sempurna, maka dengan menulis setiap hari akan secara otomatis menjadi tulisan menjadi baik.

Dari awal pembelajaran menulis lewat grup whatsapp PGRI Menulis, membuat dan mengumpulkan resume menjadi prioritas. Beberapa hasil resume terbaik dari peserta mendapatkan spirit dan motivasi oleh penerbit Andi melalui Bapak Wijaya Kusuma, sang presiden grup. Lalu bagaimana caranya menyusun resume sehingga menjadi sebuah buku yang menarik untuk dibaca? Apakah tanggal dalam resume harus dihilangkan? atau dibiarkan? Soalnya ada yang bilang, kalo buat buku, tanggal dan bulan resume harus dihilangkan. 

Sebuah pertanyaan muncul dari peserta sesaat berakhir materi yang disampaikan oleh Dr. Naim.  

Dr. Naim mengemukakan pendapatnya, tanggal tidak perlu dicantum. Ia kebetulan memiliki sebuah buku yang merupakan review dari banyak buku. Judulnya Teraju: Strategi Membaca dan Mengikat Makna. Dari buku tersebut, ia tidak mencantum tanggal pada setiap pertemuan.
Ia menyarankanbuntukbmengambil contoh dari blog yang dibuatnya. 

Kunjungi blog: 
https://spirit-literasi.blogspot.com

Tapi ia menambahkan mengenai tanggal, andainya ingin dimasukkan juga tidak menjadi masalah karena tidak ada aturan bakunya.

Bagaimana ktiteria tulisan yang baik dan berkualitas itu?  Lalu apa saja kiatnya yang dapat dilakukan untuk menghasilkan karya tulis yang bisa diterima khalayak/ penerbit.

Kriterianya adalah : Pertama "SELESAI dulu DITULIS". Ini sangat penting karena sebagus apa pun ide, jika belum selesai ditulis ya belum bagus. Kedua, minimalkan tingkat kesalahan. Misalnya salah ketik atau salah teknis; Ketiga, gunakan kata/ kalimat yang menarik dan didukung oleh logika berpikir yang baik. Dan jangan lupa,jika ingin diterima oleh penerbit, ikuti gaya dan kebijakan penerbit.

Menjaga konsistensi menulis itu tidak mudah. Apa tips yang paling jitu agar bisa konsisten menulis dan produtif? Lalu kapan waktu yang tepat bagi kita untuk menulis? Perlukah kita membuat jadwal & target waktu?

Untuk menjawab pertanyaan itu, Dr. Naim menjelaskan beberapa poin penting dalam membentuk konsistensi menulis, yaitu :  
(1) Semua kebiasaan awalnya dipaksa. Bangun komitmen untuk rutin menulis. Awalnya terpaksa, lama-lama akan terbiasa.
(2) Setiap orang memiliki jadwal yang seharusnya disusun dan ditaati.

Ada 4 sikap negatif yang berkaitan dengan MALU dalam menulis: 

(1) MALU untuk menulis, akhirnya tidak akan bisa menulis. 
(2) MALU kalau menulis dan tulisannya dibaca orang. 
(3) MALU yang sudah mulai hilang. "Pokoknya nulis" walaupun sangat jelek 
(4) MALU TIDAK MENULIS.

Lalu, sikap tidak percaya diri atau percaya diri yang berlebihan akan berdampak buruk bagi kemajuan menulis seseorang. Oleh karena itu, menempatkan rasa malu sebagaimana poin ke empat adalah yang paling baik, sehingga mampu memotivasi seseorang dalam menulis.
----

Ngainun Naim, Dosen IAIN Tulungagung. Aktif dalam kegiatan literasi. Beberapa bukunya yang bertema literasi adalah Literasi dari Brunei Darussalam (2020),  Proses Kreatif Penulisan Akademik (2017), The Power of Writing (2015), dan Spirit Literasi: Membaca, Menulis dan Transformasi Diri (2019). Untuk komunikasi via email: naimmas22@gmail.com. WA: 081311124546. http://ngainun-naim.blogspot.com

Rabu, 24 Juni 2020

MENDOKUMENTASIKAN KEGIATAN MELALUI BLOG (BAGIAN 2)

KULIAH ONLINE BELAJAR MENULIS PGRI
RABU/ 24 JUNI 2020
PUKUL 19.00 s.d. 21.00 WIB.
NARASUMBER :
DEDI DWITAGAMA

TEMA :
MENDOKUMENTASIKAN KEGIATAN MELALUI BLOG

PENULIS RESUME : HAMDANI


Assalamu’alaikum, Pak Dedi.
Bolehkah kita mendokumentasikan sebuah tulisan yang sama ke dalam lebih dari satu blog pribadi? Misalnya tulisan yang saya tulis di blog.spot, saya isi juga di wordpress. Terima kasih! (Hamdani – Kepri)

Jawab :
Boleh, menulis di blog itu seperti menata dan menghiasi rumah sendiri. Kita bebas melakukan apa saja di rumah kita sendiri.



Pertemuan untuk ke dua kalinya kuliah online Grup Whatsapp Belajar Menulis PGRI, kembali diisi oleh Pak Dedi Dwitagama. Sosok blogger ternama yang pernah menghasilkan uang hingga ratusan juta rupiah. Dalam kesempatan ini, para pembelajar akan diajak menelisik lebih dalam segunung prestasinya di balik nama beken seorang Dedi Dwitagama. 

Klik link https://dedidwitagama.wordpress.com/2006/01/24/about-me/  untuk mengenalinya lebih dekat.



Foto diunggah dari https://dedidwitagama.wordpress.com/2006/01/24/about-me/

Tujuh belas tahun selama menjajaki karier dan berkiprah menjadi guru, telah mengantarkannya kepada banyak kesuksesan.  Awalnya, ia mengajar  di Sekolah Teknologi Menengah Negeri 39 Jakarta,  pada tahun 2005. Tahun 2009 ia menjabat sebagai Kepala Sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Jakarta. Lalu, menjadi Kepala Sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 36 Jakarta, sebuah sekolah khusus yang membahas program studi nautika kapal penangkap ikan, teknik kapal penangkap ikan dan agribisnis perikanan sampai Nopember (2011). Ia juga pernah menjadi Kepala Sekolah di SMKN 29 Penerbangan Jakarta yang merupakan satu-satunya sekolah Penerbangan Negeri di Jakarta hingga akhir tahun (2012). Saat ini, ia kembali menjadi seorang guru, dengan mengampu pelajaran Matematika di SMKN 50 Jakarta.

Di awal perkuliahan ini, sekali lagi para pembelajar akan dibuat tertegun untuk mengetahui kepiawaian seorang Dedi Dwitagama. Pertama, dengan memperlihatkan statistik kunjungan blog yang dibagikannya, sudah bisa membuat decak kagum para pembelajar. Ada lebih dari 4.000 tulisan yang telah ditayangkan, 1.885.255 views, dan 594.627 visitor.

Di samping aktif mengisi blog pribadi, Dedi juga rajin menulis di kompasiana. Klik link berikut

Menurutnya, blog sangat penting untuk mendokumentasikan kegiatannya, catatan sebuah perjalanan, membangun ide personal branding, atau bahkan bisa sebagai tempat meluapkan emosi. Blog itu umpama keranjang yang dititip di dunia maya, sebagai tempat penyimpanan (recorder) perjalanan semasa hidup. 

Kemahiran Dedi dalam memanfaatkan mesin blogger, bukan hanya sebagai tempat menuangkan ide. Tapi, hal sekecil apapun bisa tidak luput dari perhatiannya. Dari hobi photografer, ia juga membuat blog yaitu, https://fotodedi.wordpress.com/

Di dalam blog di atas, ia menuangkan ide dalam berbagai  kategori. Beberapa yang menarik adalah tentang flora dan sosialita kehidupan. Dari sini, ia bisa memberikan inspirasi bagi para pegiat blogger (pemula) untuk mengembangkan sayapnya.

Saat ini, ketika ide tiba-tiba muncul, seseorang sudah bisa dengan mudah mengisi blognya melalui ponsel androidnya.  Dedi mencontohkan ia sering menulis saat sedang menunggu anaknya di lokasi parkiran sekolah. Sambil mendengar musik di mobil, ia pun menumpahkan idenya di dalam blog. Tidak perlu di edit, tulisan sudah bisa langsung tayangkan.

Diyakinkannya lagi, menulis itu perlu dilakukan sebagai sebuah bentuk rutinitas. Dengan begitu, kita akan memiliki pengalaman yang baik dan bisa menemukan titik kekurangan dan kelemahan sendiri. Hal ini, senantiasa menjadi barometer dalam peningkatan kualitas menulis kita. Kita jadi terlatih dalam berpikir serta bertingkah laku. Sampai akhirnya dapat meningkatkan mutu tulisan. 

Tidak hanya itu,  berkunjung ke blog teman dapat dilakukan juga dengan tujuan untuk pembanding. Diingatkannya, untuk tidak lupa membalas komentar pembaca blog kita. Karena hal itu akan meningkatkan motivasi diri dalam menulis.  

Tulisan-tulisan yang menarik dan bermutu itu adalah tulisan yang subjektif. Untuk mengetahuinya, cobalah tempatkan diri kita sebagai pembaca tulisan yang kita tulis sendiri. Lalu amati apakah tulisan kita menarik atau tidak? Jawab sendiri secara jujur atau bisa juga meminta tolong teman dan keluarga untuk penilaian. Jika merasa belum sempurna, perbaiki saja kekurangan itu. Selanjutnya, jika sudah dilakukan perbaikan, maka terbitkan lagi. Atau mengulangi merevisi kembali, hingga benar-benar menghasilkan tulisan yang apik. Tulisan yang dibaca berulang-ulang, menjadikan kita lebih mengenal segi kekurangan dari tulisan itu.

Dalam memancing minat dan keingintahuan pengunjung untuk menjelajahi tulisan kita, menentukan ide utama dan menarik, sangatlah perlu diperhatikan. Buatlah sedemikian rupa sehingga pembaca dapat menjangkau ide brillian dari tulisan itu. Setelah itu lanjutkan dengan uraian yang diperlukan sambil menyertakan foto dan video agar lebih terlihat keren.

Tentang tulisan apa yang paling menarik, beliau menyarankan sebaiknya kita juga tidak mengunci cara berpikir kita, sehingga terkesan miskin ide. Tulislah saja apa yang ada dalam pikiran kita. Menarik atau tidak sebuah tulisan yang kita buat, serahkan kepada pembaca untuk menilainya. Karena dengan hadirnya pembacalah yang dapat membuat kita menjadi percaya diri atau nebemukan kekurangan untuk selalu berbenah. Tanpa pembaca, kita tak mungkin masuk keranjang, memikul sendiri. Artinya memuji diri sendiri, tentu tidak akan bisa.

Akhirnya, Dedi Dwitagama memberikan motivasi di ujung pembelajaran bahwa manusia yang baik adalah manusia yang banyak bermanfaat buat orang lain. Peribahasa mengatakan “Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading. Kedua point itu bisa diaplikasikan lewat media blog. Sekarang mengisi blog bisa hanya dengan menggunakan HP. 

Menulis di blog adalah mendokumentasikan apa saja yang terlintas dalam pikiran kita. Secara bertahap, kita akan semakin menjadi cakap dalam menulis serta bertambah luas wawasan berpikir. Hingga pada suatu saat nanti, kita akan menjadi seorang penulis profesional dan ternama. Lalu menikmati buah dari karya dari olahan tangan kita sendiri. 
- - - - -

Minggu, 21 Juni 2020

MADU PAHIT


MADU PAHIT

Darko baru tahu bahwa ada madu yang rasanya pahit? Sumpah, seumur-umur, inilah pertama kali ia merasakan madu yang rasanya pahit. Selama ini, yang ia tahu bahwa madu itu manis, enak, dan memberi kenikmatan bagi yang meminumnya. Cukuplah.., ia trauma. Tak ingin dua kali terminum madu pahit itu. Jika alasannya hanya untuk obat, masih banyak obat yang lain yang bisa memberi efek kebahagiaan setelah meminumnya.

Darko pun protes pada istrinya yang tiba-tiba menghidangkan madu pahit itu di dalam adukan telor separoh masak kesukaannya. Baru serutan pertama, ia berhenti, lalu membuang sisanya. 

Diraihnya sebuah botol yang berisi madu berada persis di depannya. "Apa ini?" Warnanya gelap kehitaman seperti oli. Ada tulisan tangan jelas terbaca di balik botol itu. "Pahitnya madu, tidak sepahit dimadu".