Tulisan Penyair Lebih Tajam daripada Pedang, Celakanya Bila Melukai Diri Sendiri.
Selasa, 09 Mei 2023
MENULIS TIADA HENTI (BAGIAN 3)
Jumat, 23 Desember 2022
PESAN TERBUKA UNTUK DINDA
Jumat, 05 November 2021
MEMAKNAI PENDIDIKAN KARAKTER DI TENGAH HILANGNYA JATI DIRI BANGSA
Rabu, 27 Oktober 2021
PEMBERIAN BERBUAH KEBAIKAN
Rabu, 22 September 2021
MENGEJAWANTAH PIKIRAN SANG GURU PUISI MULTIMEDIA, ASRIZAL NUR
MENGEJAWANTAH PIKIRAN SANG GURU PUISI MULTIMEDIA, ASRIZAL NUR
Selasa, 02 Februari 2021
TUHAN BERI AKU WAKTU
Minggu, 31 Januari 2021
Tuhan
Jika kebahagiaanAdalah harta berlimpah
Berilah aku bumi, langit juga
Tuhan
Jika kebahagiaan
Adalah jabatan yang tinggi
Jadikan aku penguasa di dunia
Tuhan
Jika kebahagiaan
Adalah paras yang indah
Berikan aku kekasih yang rupawan
Tuhan
Jika kebahagiaan
Adalah kematian diri
Jangan cabut dulu nyawaku.
Tuhan
Aku malu
Ada dosa yang membelenggu
Menghalangi jalanku menuju rahmat-Mu
Kamis, 28 Januari 2021
GAGAL PAHAM
Baru setengah
jalan tulisanku kutorehkan, imajinasiku terhenti. Aku kehilangan ide dan sangat
mengantuk. Belum sempat terlelap aku terbangun karena dikejutkan suara hentakan
meja yang keras. Oh, buku yang kutulis tadi terlempar ke lantai. Kupungut
kembali lalu kubaca sebelum akan melanjutkan ideku.
Dia ingin mengatur tulisanku. Aku katakan padanya,"Hei... Bung. Di sini aku yang lebih tahu tentang dirimu!" Tidak! Dia masih marah dan menunjukkan perlawanannya terhadapku. Dia bahkan mengancam akan melaporkanku. Ah, menjengkelkan sekali! "Aku capek denganmu!" Lalu kutimpuki saja ia dengan tumpukan buku-buku di hadapanku. Ia pun mati. Kemudian aku pun tidur kembali.
Paham! 😀
Senin, 18 Januari 2021
GURINDAM '21
GURINDAM ‘21
(Pengarang : HAMDANI, S.Pd.)
Pasal 1
Mengambil pendapat dalam mufakat
Jauhkan kerja caci dan hujat
Kalau majelis banyak menghujat
Di situlah tumbuh fitnah dan umpat
Mengambil pendapat dalam mufakat
Dengki dan khianat jangan dibuat
Barang siapa yang dengki khianat
Payah hidupnya sepanjang hayat
Mengambil pendapat dalam mufakat
Berpikirlah cermat, jangan berdebat
Barang siapa suka berdebat
Tiada padanya beroleh berkat
Mengambil pendapat dalam mufakat
Kepada yang tua hendaklah hormat
Barang siapa yang tiada rasa hormat
Akal budinya, tiada bermanfaat
Mengambil pendapat dalam mufakat
Santunlah bicara, junjunglah adat
Tandanya bangsa yang beroleh rahmat
Pemimpinnya adil, rakyatnya selamat.
Sabtu, 16 Januari 2021
MENULIS TIADA HENTI
KEBAHAGIAAN ITU DIBANGUN, BUKAN DICIPTAKAN
Suatu ketika, saya membaca sebuah tulisan pendek yang berbunyi kebahagiaan itu harus diciptakan, bukan dicari. "Sangat setuju, tetapi ...."
Lalu saya langsung menelisik sang pembuat status di laman facebook miliknya itu. Oh, ternyata ia memang si pemilik kebahagiaan itu. Saya langsung meng-klik tanda like tanpa harus membaca hingga selesai apa yang ditulisnya. Saya percaya, orang itu memang pantas mendapatkan kebahagiaannya.
Namun beberapa saat setelah meng-klik tanda suka itu, imajinasi saya mulai bermain. Saya kembali membuat tulisan di kolom komentar di laman facebooknya itu. Menurut saya kebahagiaan itu dibangun, bukan diciptakan.
Kebahagiaan itu Allah yang menciptakan. Dan di sebalik itu, Dia juga menciptakan kesedihan. Jika dikaruniai kebahagiaan, manusia tentu akan merasa sangat senang dan bersyukur atas nikmat yang diberi oleh-Nya. Namun saat duka datang melanda, manusia banyak yang berputus asa dan bahkan mengumpat pada Tuhan. Na'udzubillahi min dzaliq. Semoga hal seperti ini tidak terjadi pada diri kita.
Kebahagiaan yang dirasakan oleh manusia itu berbeda-beda pula tingkatnya. Ada kebahagiaan semu, kebahagiaan sementara, dan kebahagiaan yang hakiki. Pastilah tidak ada kebahagiaan yang paling dirindukan yaitu kebahagiaan akhirat untuk mendapatkan balasan syurga dari-Nya.
Dalam konteks kebahagiaan yang dimaksud,
secara mendasar arti kebahagiaan itu adalah emosi positif yang dirasakan oleh seseorang. Begitu pula dari segi tindakan, menunjukkan aktivitas positif dari hal yang disukainya.
Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam memberi tuntunan tentang bahagia.
Dari Abu Hurairah r. a., Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Kaya (ghina') bukanlah diukur dengan banyaknya harta atau kemewahan dunia. Namun kekayaan adalah hati yang selalu merasa cukup." (HR. Bukhari dan Muslim)
Kebesaran hati menerima pemberian Allah adalah kebahagiaan. Orang yang bahagia itu, ketika Allah memberinya kebaikan, ia bersyukur. Dan apabila diberi kesulitan, ia bersabar. Ketika diuji dengan permasalahan hidup, ia fokus pada Dzat yang memberikan masalah, yaitu Allahu Subhanahu Wata'aala.
Janganlah kita bergantung kepada makhluk dan berharap penuh dapat menyelesaikan permasalahan yang sedang kita hadapi. Tetaplah fokus pada pertolongan Allah. Karena Berharap pada makhluk dapat menyebabkan kita mengalami kekecewaan. Namun jika kita menerima setiap persoalan dan permasalahan dalam kehidupan ini dengan lapang dada, niscaya hati kita akan merasakan hadirnya kebahagiaan itu. Jangan mengeluh dan berburuk sangka pada-Nya. Sehingga kita mengumpat dan menjadi kehilangan kesyukuran pada-Nya.
Jalan kebahagiaan yang Allah bukakan untuk kita sangat luas terbentang. Ketika kita menghadapi kesusahan, bukankah Allah juga memberikan jalan ke luar? Ia melepaskan sekian banyak kesulitan yang kita jalani agar kita senantiasa dapat bersyukur dengan segala nikmatnya.
Di dalam kesulitan ada kebahagiaan. Sebagaimana yang tertulis dalam Al Qur'an Nur Karim - Surat Al-Insyirah Ayat 5-6 :
"Karena sesungguhnya, sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan."
Saat kita diberi pertolongan oleh Allah dan terlepas dari kesulitan, itu adalah kebahagiaan. Kita sering melupakan, setrlah sekian banyak ia melepaskan kita dari kesulitan demi kesulitan.
Kebahagiaan dunia itu hadir dan pergi mengikuti suasana hati manusia. Lalu, apa yang kita inginkan dari kebahagiaan dunia? Yaitu kebahagiaan dunia yang mengantarkan kita kepada kebahagiaan akhirat.
Kita hendaknya menjalankan kehidupan ini dalam rambu-rambu kebaikan agar kebahagiaan itu senantiasa dapat kita peroleh. Sebaliknya jika kita ke luar dari rambu-rambu kebaikan, maka kebahagiaan yang kita peroleh hanyalah bersifat semu. Kebahagiaan seperti ini tidak akan membawa kita kepada kebahagiaan sesungguhnya, yaitu kebahagiaan yang kekal dan abadi.
Menurut saya, sebagai makhluk yang serba kekurangan, sudah tentu kita tidak bisa menciptakan kebahagiaan yang kekal dan abadi di muka bumi ini. Itulah sebabnya kita bukan yang menciptakan kebahagiaan itu.
Kebahagiaan itu dibangun bukan diciptakan. Karena kebahagiaan itu umpama benih yang akan tumbuh baik bila dirawat. Sebaliknya, kebahagiaan akan sirna jika kita tidak memperdulikannya. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita membangun kebahagiaan itu.
Bagaimana membangun kebahagiaan?
Membangun kebahagiaan terlebih dahulu dimulai dari menata hati dan perasaan agar selalu bersangka baik dalam setiap keadaan. Kebahagiaan itu adalah hati yang mampu menerima setiap keadaan yang tercipta oleh kebesaran Tuhan. Berkeluh kesah hanya akan membuat kita semakin dirundung kesedihan. Tiada masalah yang dapat diselesaikan dengan kesedihan.
Segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak Allah,Tuhan yang yang telah menciptakan. Bersyukur dan bersabar serta melakukan pengamalan agama yang sempurna, adalah jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat
Wallahu a'lam bishshowab
Kamis, 14 Januari 2021
MENULIS TIADA HENTI (BAGIAN 4)
Bagian 4.
MENGGALI MUTIARA HATI DAN PIKIRAN
(PENULIS : HAMDANI, S. Pd.)
Kebaikan yang terbersit dalam pikiran itu bagaikan mutiara yang terpendam di dasar lautan. Ia ada tetapi tidak terang kelihatannya. Mutiara yang bertaburan di dasar lautan itu belum dapat memberikan kebaikan bagi banyak orang banyak jika masih tenggelam di dasar lautan. Namun ketika mutiara itu diangkat ke permukaan, dipandangi, dan atau digunakan oleh banyak orang, maka barulah ia akan memberikan banyak manfaat. Ia akan semakin bernilai dan dihargai oleh banyak orang.
Begitu pula halnya dengan ide-ide brillian yang terpendam dalam hati dan pikiran seseorang. Ide yang terpendam itu hanya dapat memberikan sedikit manfaat bagi orang yang memilikinya. Namun mungkin tidak bagi yang lainnya. Karena selama ide itu tidak dimunculkan, selama itu pulalah orang lain tidak mengetahui sinar yang terpancar dari 'mutiara' hati dan pemikiran seseorang tersebut.
Angkatlah ide tersebut ke permukaan dengan cara menuliskannya menjadi berbagai bentuk tulisan. Jadikan ia cerpen, novel, opini, puisi, pantun, syair, gurindam, essay, dan banyak lagi lainnya.
Kini, seiring berjalannya waktu, ada sebuah genre tulisan yang sedang populer, yaitu menulis Pentigraf (Cerpen Tiga Paragraf).Cara membuatnya sangat mudah dan simpel. Hanya tiga paragraf dengan tiga pikiran pokok atau pikiran utama.
Jangan mengatakan, "Saya tidak memiliki ide." Karena begitu mudahnya memunculkan sebuah ide, sama mudahnya seperti kita sedang meng-klik tombol keyboard di laptop atau keypad di ponsel. Secepat itu pula tulisan kita akan muncul di layar monitor mengiringi alur positif yang ke luar dari pikiran kita.
Jangan khawatir tulisan kita tidak bakal menarik. Karena menulis itu juga umpama menanam tanaman, tidak mungkin akan langsung berbuah. Tanaman itu setelah tumbuh hendaknya rajin diberi pupuk dan disiram. Tidak hanya itu, tanaman juga harus disemprot insektisida agar bebas dari serangan hama. Nah, tidak sedikit bukan? Artinya, tiada suatu pekerjaan yang boleh kita anggap enteng. Suatu pekerjaan akan memperoleh hasil yang baik apabila dilakukan dengan cermat dan teliti.
Hasil tulisan akan bernas apabila kita tidak bersikap asal-asalan dalam membuatnya. Tulisan yang dibuat asal-asalan sebaiknya jangan diorbitkan dulu dan harus diteliti ulang. Jangan pula dibuang tulisan yang sudah susah payah kita buat itu, melainkan disimpan saja menjadi draft yang bisa dikerjakan kembali saat ide kita mengenainya kembali muncul.
Hmm, rupanya ide itu memang tidak sekali muncul. Untuk bisa menyudahi sebuah tulisan dengan cepat, ibarat kata orang, telur ayam itu dieramkan dulu baru ia akan menetas menjadi ayam. Tidak mungkin ayam bertelur langsung menetas, bukan? Sama juga kita tidak berharap tulisan kita langsung jadi tanpa melalui proses terlebih dahulu.
Saya menemukan tulisan yang saya buat dengan tergesa-gesa akhirnya mendatangkan banyak kesalahan. Oleh karena itu, lama waktu yang terpakai dalam menyelesaikan sebuah tulisan bukanlah masalah. Karena dalam menulis yang baik, kita bukan mengejar kuantitas melainkan kualitas. Lagi pula, sebagian besar tulisan yang kita kerjakan itu, bukanlah sesuatu yang terburu waktu. Kita bisa mengerjakannya dengan santai dan lempang dalam berpikiran. Sekali lagi, bertenang dan tidak tergesa-gesa adalah kunci dalam mencapai sebuah hasil yang baik.
Selamat berkarya!
Rabu, 13 Januari 2021
MENULIS TIADA HENTI
Senin, 11 Januari 2021
BELAJAR DARING DI PERSIMPANGAN JALAN?
BELAJAR DARING DI PERSIMPANGAN JALAN?
Rabu, 09 Desember 2020
NADA CINTA DAN KEDAMAIAN
NADA CINTA DAN KEDAMAIAN
Keharmonisan cinta terlahir dari rasa saling pengertian dan kasih sayang. Keharmonisan itu akan melahirkan kedamaian dan ketenteraman di dalam hati.
|
Do |
: |
Kita ini adalah satu
dalam membangun ritma kehidupan, harmonisasi dan gerak langkah yang indah.
Tinggi dan rendah adalah khazanah seni. Setiap perbedaan merupakan dawai yang
mampu melepaskan getaran cinta dan kedamaian. |
|
Re |
: |
Bentar dulu,
masalahnya ada saja simpang nada yang sumbang. Harmonisasi tak akan wujud
jika nada tidak selaras. |
|
Mi |
: |
Ya, kita memang
sering tak mengerti tentang syair kehidupan. Ataukah kita memang tak mau
mengerti? |
|
Fa |
: |
Jangan salahkan
kehidupan. Masing-masing kita adalah tuts yang diberi karunia untuk menyuarakan harmonisasi dan keselasan. Kita mestinya mengambil peran
masing-masing agar kita mampu menciptakan kedamaian dan ketenteraman bagi
kehidupan. |
|
Sol |
: |
Benar, siapakah lagi
jika bukan kita yang mewujudkan harmonisasi itu? Setiap kita mesti mampu
menyuarakan kedamaian. Membuang rasa ego yang dapat melahirkan kebencian dan
permusuhan di antara kita. |
|
La: |
: |
Masihkah kita bisa
bersama lagi, setelah sekian lama ritma dan gerak langkah kita terperangkap
dalam perbedaan? |
|
Si |
: |
Jangan pesimis dan
tetaplah optimis! Dengan perbedaan itu kita telah menghasilkan berbagai
simfoni kehidupan. Teruslah laungkan suara kedamaian agar sirna segala
kebencian dan permusuhan. |
|
Do |
: |
Benar! Kita ini
adalah satu dalam membangun ritma kehidupan, harmonisasi dan gerak langkah
yang indah. Tinggi dan rendah adalah khazanah seni. Setiap perbedaan
merupakan dawai yang mampu melepaskan getaran cinta dan kedamaian. Mari kita
terus menggaungkan semangat persahabatan dan kasih sayang di antara kita.
Agar tercipta syair-syair kehidupan yang indah dan menenteramkan. |
|
|
Selasa, 08 Desember 2020
MEMUAT IDE TULISAN DARI FORUM PERCAKAPAN GRUP
Kamis, 19 November 2020
ROTI KUBO
Sebuah Opini : Tinjauan Umum Tentang Sebuah Usaha Produksi yang Tak Pernah Mati
"Roti Kubo". Mendengar namanya yang asing dan menggelitik di telinga, tekak ini seketika akan dibuat berubah. Seperti menolak, tekak ini pun akan enggan dipujuk untuk dapat berdamai atau sekedar memberi laluan aar keping roti ini bisa segera masuk ke lambung. Tidak lain ini karena sebutannya yang aneh, yaitu Roti Kubo.
Roti Kubo atau Roti Kuburan. Ini menjadi sebuah penamaan yang terdengar cukup sadis tapi tak membahayakan. Panganan yang telah banyak memenuhi pasar dan terbuat dari adonan tepung gandum ini cukup "direndahkan" atas pemberian namanya. Padahal panganan ringan ini sangat membantu dalam melepaskan rasa lapar walau bersifat sementara.
Bayangkan jika tidak ada sesuatu yang bisa dimakan saat perut benar-benar lapar dan keroncongan? Tentu dengan membawa beberapa keping roti kering ini ke mana pun pergi bisa memberikan manfaat besar demi mengalas rasa lapar itu.
Kelihatannya orang-orang pada lupa kalau dalam banyak situasi, roti kering yang satu ini sangat membantu mengurangi rasa lapar. Roti ini memang tidak gurih bila dibandingkan dengan yang lain sederet dengannya. Walaupun bukan makanan pavorit dari segi cita rasa, namun harganya yang murah menjadikan makanan ringan ini diburu banyak orang.
Barangkali, peluang pasarnya tak akan pernah mati. Saat banyak perusahaan bangkrut dan gulung tikar karena terdapak pandemi Covid-19, Roti Kubo ini masih terus nangkring di berbagai rak-rak penjualan di warung, toko, dan pasar.
Lihat bagaimana roti ini dijual? Penjualan roti ini mampu memenuhi seluruh pasar; kedai, warung, hingga ke toko swalayan di seluruh pelosok tanah air bahkan menjelajah dunia.
Harganya yang relatif rendah dan stabil membuat orang tak lupa memilihnya untuk bekal perbelanjaan yang akan dibawa pulang.
Wah, tidak disangka dari membaca ini, saya dan Anda mengenal strategi usaha yang besar dan dikemas secara sederhana. Yaitu, strategi produksi dengan mengolah bahan yang murah dengan penjualan yang juga murah. Bukan sebaliknya, memproduksi sesuatu dari bahan yang mahal sehingga penjualannya juga harus mahal. Sehingga banyak yang tak mampu membelinya.
Coba bandingkan ini dengan beberapa perusahaan makanan ringan lainnya, yang bangkit sebentar lalu tumbang akibat tak mampu menjangkau pasar bawah yang nota bene masyarakat umum kelas menengah ke bawah.
Roti crackers murah ini yang sering ditemui di pasaran tetap laku dijual walau pandemi Covid-19 melanda. Soal rasa memang tidak berubah. Kalau hendak dibilang tawar, ya, memang tawar. Namun, dua varian yang masih kekal, yaitu yang diberi butiran gula pasir di permukaannya dan ada yang tidak. Semua ini masih sangat laku dijual sebagai makanan yqng dikonsumsi. Sudah terdapat pula varian baru dengan campuran kelapa sehingga sedikit lebih renyah.
Dengan begitu tampaknya, perusahaan yang memproduksi barang dagangan ini sedikit telah mengubah strategi dengan memberikan cita rasa berbeda demi dapat menghilangkan imej roti kubo pada melekat padanya. Walau harganya sedikit dinaikkan tapi masih tetap bersahabat serta menjadi sesuatu yang wajar. Ini strategi keren juga. Mengubah cita rasa tetapi tetap memperhitungkan peluang pasar.
Dari dulu, penjualan roti kering ini tak pernah berhenti. Tanpa disadari, sudah lama sekali ini diproduksi.
Soal nama atau sebutan, roti ini memang terdengar memiliki nama yang beragam di setiap daerah. Persoalannya, para pembeli memang tak dapat menyebutkannya secara pasti nama produk makanan ini karena ia tidak memiliki nama yang khas. Sama halnya, orang lebih mengenal Aqua untuk menyebutkan air mineral kemasan yang banyak dijual. Padahal, Aqua itu adalah merek dagang. Begitu pula orang menyebut kendaraan roda dua sebagai honda. Padahal lagi-lagi ini adalah merek sebuah produk dagang.
Roti ini ada pula yang mengenalnya dengan sebutan Roti Gabin. Sekelumit sejarah penamaan "gabin" ini, dulu ini dinamakan dengan "cabin biscuits". Biskuit yang akan disajikan kepada para penumpang kapal yang berada di dalam kabin sebagai panganan ringan di kapal.
Cabin Biscuits berubah menjadi Roti Gabin. Begitulah akhirnya panganan ini menjadi berubah sebutannya karena disesuaikan dengan lidah orang Indonesia.
Namun, apa yang terjadi dari beraneka penamaan roti crackers ini? Setiap penamaan yang muncul tampaknya tak ada yang istimewa. Sehingga setiap nama yang melekat padanya, hanya terkesan ingin memberitahu tentang harganya yang murah bersahabat. Tidak neko-neko karena bisa siapa saja yang ingin mencobanya. Silahkan menikmati atau merasakan sensasi apa yang dimilikinya. Hehe...
Upps.., tapi ada juga yang menarik, nih! Dengan memakan roti kering ini, beberapa kalangan dari generasi legend jadi dapat mengingat kembali masa silamnya yang sudah berpuluh tahun ditinggalkan.
Roti ini sudah diproduksi lama sekali. Hehe.., barangkali pada zaman penjajahan sudah ada. Dengan memakannya juga, seakan mampu membuka lembaran nostalgia masa lalu yang tak dapat terekam baik dalam hape atau pun laptop. Tidak seperti sekarang ini, jeprat jepret sana sini sudah bisa diabadikan melalui berbagai aplikasi internet.
Lagi-lagi berbicara nasib Roti Kubo selalu jadi sebutan yang remeh dan menjadi bahan tertawaan bagi banyak orang. Padahal, roti kering ini bisa lesap dari bungkusnya dalam sekejap. Bayangkan, roti sebungkus orang yang mengambilnya ada sepuluh orang. Hehe... Cara makannya yang bisa dilakukan sambil duduk dan berdiri, membuat panganan ini tidak harus disisakan.
Sementang pun (walaupun) pemberian namanya yang beragam dan aneh, tidak berarti orang yang mengonsumsinya terbatas untuk orang-orang tertentu saja. Dari kalangan bawah sampai tingkat atas pun banyak yang sudah menjadikannya sebagai cemilan.
Saat dalam keadaan lapar, siapa yang akan tahan sementara roti kering ini dengan senyumnya mempersilahkan dirinya untuk dijamah dan mencicipinya. Siapa pun tentu pula akan memanfaatkannya demi bisa mengalas perut. Dua tiga keping roti, jelas akan bisa bertahan dalam satu dua jam ke depan.
Kue kering yang lugu ini ada pula yang menyebutnya dengan sebutan roti jagung. Walaupun sebenarnya roti ini tidak berbahan tepung jagung tetapi gandum. Penamaan ini mungkin akibat salah menafsirkan terhadap gambar yang terdapat pada bungkus roti, yaitu bunga gandum yang disangka bunga jagung. Maklum, gandum tidak populer ditanam di Indonesia sehingga banyak masyarakat yang tidak mengenalnya.
Roti yang cukup kalori ini, sangat baik dikonsumsi. Kemasannya yang praktis dan aman bisa dibawa kemana-mana, bisa juga untuk dibawa berpiknik, pergi bekerja ataupun sebagai buah tangan.
Kesimpulannya, terkait masalah penamaan yang banyak diperkatakan oleh konsumen terhadap sebutan roti kubo tidak akan terlalu berpengaruh sehingga dapat menurunkan omset penjualan. Yang terpenting adalah produk makanan ini tidak boleh mengandung unsur dari bahan-bahan yang berbahaya bila dikonsumsi.
Selanjutnya, masalah cita rasa tergantung dengan lidah seseorang. Tawar, manis, asam, asin, dan pahit adalah hal yang relatif. Saat seseorang mengatakan suatu makanan yang dirasakannya itu tawar atau asin, justru banyak pula orang yang mengatakan sebaliknya. Jadi, sebuah hikmah yang dapat dipetik adalah tentang peluang tetap terbuka dalam membangun dan mengembangkan usaha. Sementara kita bisa melakukan sebuah usaha, mengapa tidak mencoba dan melakukannya. Jangan putus asa sebelum kita benar-benar memiliki peluang yang terbaik dan memberi keuntungan.


