Selasa, 09 Mei 2023

MENULIS TIADA HENTI (BAGIAN 3)


NASIHAT BAGI PENULIS PEMULA
(Tulisan buat menasihati diri sendiri)

Banyak yang lupa bahwa menulis itu mudah, semudah meng-klik tombol-tombol keybord di laptop atau di keypad gawai yang lazim disebut gadget. 

Menulis itu adalah sebuah keterampilan. Jika kita tidak memiliki suatu keterampilan yang kita kuasai, kegiatan menulis dapat menjadi pilihan untuk itu. Ini tentunya bisa menjadi pekerjaan yang menyenangkan. 

Dari terampil menulis, banyak orang yang menjadi sukses. Seseorang bisa jadi penulis ternama dan menghasilkan finansial. Uang ratusan ribu bahkan ratusan juta rupiah dapat diperoleh tanpa harus bekerja keras seperti bekerja yang mengandalkan otot dan tulang empat kerat (kaki dan tangan). 

Bekerja menjadi penulis, tidak perlu harus berpanas-panas demi mendapatkan hasil, baik materi maupun kepuasan batin. Menulis bukan pekerjaan yang terpaksa atau pekerjaan yang berada di bawah tekanan. Tidak ada yang memerintah, selain kita sendiri yang mengaturnya. Kapan dan di mana kita akan menulis, adalah tergantung keinginan kita. 

Lalu sekali lagi, kapan kita akan memulai menulis? Lakukanlah segera! Mulailah menulis dari hal-hal yang kecil yang kita mampu dan kuasai. Tulislah dengan seksama. Bukan asal menulis tanpa menghiraukan konten tulisan. Begitu juga tentang pemilihan diksi, ejaan, dan tata bahasa. 

Periksa tulisan berulang-ulang sebelum dikirimkan atau diposting. Ditimbang-timbang terlebih dahulu dan dirasa-rasakan dengan hati. Apakah isinya sudah tepat, tidak menyinggung, apa lagi menyangkut SARA. 

Begitu pula, apakah tulisan yang dibuat sudah benar dan tidak membingungkan? Kata-kata tertentu memiliki nilai rasa. Ada yang bernilai rasa baik (konotasi positif) dan ada yang berkonotasi negatif. 

Jika ada kata-kata yang memiliki konotasi positif (lebih halus maknanya), mengapa tidak digunakan? Seseorang akan dipandang sebagai penulis yang cermat, teliti, atau sebaliknya, jika ia menyadari keterampilan menulis itu bukan hanya tentang menyampaikan ide atau isi pikiran. Tulisan yang baik dan berkualitas, sebagaimana para penulis yang susah malang melintang, sangat memperhatikan kriteria tulisan yang baik. Output-nya, tulisan itu secara langsung akan mendapat penilaian positif dari banyak orang. Jika tidak, tentu tulisan kita akan kurang mendapat respon. 

Lalu, kita harus bagaimana? Sakit hati atau frustrasikah? Jawabnya tidak dan jangan! Andainya kita belum mampu menguasai banyak hal tentang seluk beluk dan teknik menulis, tetap sajalah menulis sambil terus belajar. Orang-orang yang sukses dalam menulis pasti mengalami beragam kisah dan suka duka. Sampai akhirnya mereka menguasai cara menyajikan tulisannya dengan baik. 

Sering kita dengar, tidak semua orang memiliki bakat dalam menulis. Namun banyak orang memiliki ide sehingga menjadikannya seorang penulis.
 
Nah, dari sekarang marilah kita mulai memperbaiki banyak kekurangan yang ada. Lakukan dengan perlahan! Hal sekecil apa pun yang mampu kita perbaiki, segeralah perbaiki. 

Memang benar, mengubah kebiasaan itu tidak mudah. Tapi setidaknya, jika kita telah memulai dan berkeinginan untuk mencobanya, kita pasti akan bisa melewati perubahan dengan sebaiknya. 

Semoga sukses!
(Hamdani).

Jumat, 23 Desember 2022

PESAN TERBUKA UNTUK DINDA

PESAN TERBUKA UNTUK DINDA

Dinda, maaf, ketika papa tidak memberimu lebih. Papa memang tidak dapat memberimu kemewahan dan kemanjaan yang lebih. Papa hanya percaya bahwa hidupmu adalah tentang bagaimana kamu berjuang. Kamu tentu percaya, bahwa semua sudah digariskan oleh-Nya. Kita hanya menjalaninya, bukan? Namun, jika engkau diberi kesempatan untuk memilih jalan hidup, pilihlah jalan yang menuju kepada kebaikan. Sekalipun engkau akan melewati jalan yang sulit, tetaplah engkau berpikir cermat dan selalu berbaik sangka. Karena jika engkau memikirkan sesuatu yang buruk atau sulit, maka itulah yang engkau dapat.

Jangan engkau mengeluh dan berputus asa. Lalu engkau mengumpat atas apa yang telah engkau peroleh. Mungkin sering engkau mendapat sesuatu yang engkau inginkan tidak sesuai dengan hasratmu. Percayalah, belum tentu baik dalam pandanganmu adalah baik untuk dirimu. Sebagai kasih-Nya Allah, Dia menundanya atau menggantinya dengan yang lain. Atau bahkan tidak sama sekali. Karena Tuhan lebih tahu anugerah apa yang akan diberikan-Nya pada hamba-Nya. 

Saat engkau mendapatkan kesulitan, itu datang dari Allah, sebagaimana Dia mendatangkan kemudahan padamu. Jangan menyalahkan situasi walaupun terasa buruk dalam pandanganmu. Jernihjan hati dan pikiranmu. Bertawakkallah pada-Nya. Lalu berdoa dan berusaha mencari jalan penyelesaian yang baik untuk dilewati. Jangan ragu wahai anakku! Allah akan menolongmu saat engkau bersungguh-sungguh meminta pada-Nya.

Pertama, engkau harus mengerti terlebih dahulu. Jika engkau mendapat kesulitan, bersikaplah tawadduk dan qonaah (rendah hati dan penuh kerelaan). Senantiasa bersyukur menerima pemberian Allah. Buang rasa cemas dalam menghadapi masalah dan terima dengan penuh keiklasan. 

Katakan berulang-ulang pada dirimu bahwa engkau tulus menerima ketentuan Allah. Saat engkau bersyukur menerima setiap kekurangan pemberian Allah, maka Allah berjanji dalam firman-Nya, Dia akan mengangkat menambahkan rejeki dan mengangkat derajat keimananmu. 

“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'.” (QS. Ibrahim: 7). 

Apa yang harus engkau lakukan jika kesulitan datang bertubi-tubi menderamu? Jangan mengeluh! Datanglah pada-Nya untuk memohon pertolongan. Berkomunikasilah dengan-Nya! Mintalah padanya kekuatan hatimu, kekuatan pikiranmu serta kekuatan tenagamu untuk dapat menyelesaikan masalah yang engkau hadapi. Sekali lagi papa pesankan, teruslah berdoa dengan kesungguhan hati. Niscaya Allah akan mengabulkan setiap permintaan hamba-Nya. 

“Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina“. (QS. Ghafir: 60)

Anakku, mari sejenak kita merunut kembali ke masa sebelumnya! Ingatkah saat kecil dulu? Waktu itu engkau tertatih-tatih berjalan. Jatuh bangun namun engkau tetap gigih berusaha demi sebuah keinginan yang besar. 

Begitu banyaknya aral dan rintangan yang telah engkau hadapi, engkau lupa bahwa sesungguhnya engkau adalah seorang pejuang yang kuat untuk dirimu sendiri. Melawan kekerdilan jiwamu kala itu. Mungkin engkau tidak akan berdiri di sini sebagai seorang yang tangguh, apabila engkau tidak memiliki tekad yang kuat saat itu. 

Anakku, sadarlah dan jangan lupa! Bahwa di balik semua pengorbanan yang engkau lakukan, ada kekuatan yang maha besar, yaitu pertolongan yang datang dari Allah untukmu. Allah yang Maha Baik dan Maha Penolong, Dia melerai dan melepaskan kesulitanmu satu demi satu. Begitulah cara Allah melatih jiwamu untuk menjadi kuat. Kini, janganlah sekali-kali engkau melupakan hal itu, lalu menyombongkan diri pada-Nya. Semoga apa yang engkau peroleh dapat bernilai keberkahan dari Allah. Ingat, ya! Apa yang engkau tanam hari ini, akan membuahkan hasil yang bermanfaat bagi lingkungan dan orang-orang di sekitarmu di masa mendatang.

Papa dan mama tetap men-support-mu dalam jaga dan tidur kami. Sambil tetap berdoa demi mengharapkan pertolongan-dari-Nya. Janganlah lupa kepada mereka yang telah banyak membantumu. Hargailah mereka dan teruslah berbuat baik.

Sekarang dan untuk hari-hari nanti dan mendatang, teruslah fokus ke satu titik. Yaitu mencari keridhaan Ilahi. Gapailah masa depan yang lebih cemerlang. Ingat! Masa depanmu masih panjang. Masa depanmu akan kamu tentukan dan dimulai dari hari sekarang, detik sekarang. Kesuksesanmu bukan hanya tentang angan-angan atau hayalanmu. Seperti menggantang, asap, engkau akan sia-sia dan tidak akan memperoleh manfaatnya. 

*Ingat"*
Kesuksesan adalah gerak langkah majumu melawan kemalasanmu sendiri.

Terakhir, masih ingatkah? Saat engkau dulu ke luar dari satu lorong waktumu yang penuh liku (yaitu menghadapi masa-masa yang penuh tantangan dan kesulitan). Belum lagi berakhir, ternyata di hadapanmu telah terbentang lebar pula, akan lorong waktu lainnya yang mungkin akan jauh lebih panjang berbelit-belit dan sulit. Namun hebatnya dirimu, engkau tidak merasa khawatir lagi. Sekalipun itu sulit yang menghadang, bagimu hanya kerikil kecil yang mewarnai perjalanan hidupmu. Itu tidak akan membuatmu putus asa. Karena engkau percaya bahwa engkau mampu. 

Sadarlah, anakku! Setiap lorong waktu itu memiliki cabaran dan tantangannya sendiri. Namun sekali nasihatku, engkau jangan khawatir. Karena setiap kali engkau diberi kesulitan oleh-Nya, di situlah Allah membukakan jalan kemudahan untukmu ke luar dari persoalan yang sedang engkau hadapi. Percayalah, engkau adalah seorang yang hebat dan tangguh yang bisa menghadapi kesulitan. 

Terakhir pesan papa, "Hidup ini adalah tentang bagaimana menyelesaikan setiap masalah yang datang, bukan tentang menghitung masalah yang datang dan membebani dirimu. Hadapi dan jangan menyerah sebelum berjuang.

Wassalamu'alaikum.
Papa Hamdani.

Papa ucapkan, Congratulation! Selamat meraih degree S1 (Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris) di Universitas Umrah. Tahun 2022, Semoga berkah segala ilmu yang di dapat dan bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan orang banyak serta lingkungan. Aamiin Yaa Rabbal 'Aalamiin!

Jumat, 05 November 2021

MEMAKNAI PENDIDIKAN KARAKTER DI TENGAH HILANGNYA JATI DIRI BANGSA


MEMAKNAI PENDIDIKAN KARAKTER
DI TENGAH HILANGNYA JATI DIRI BANGSA

BAGIAN 1:

(Belajar memperbaiki kesalahan dari petuah-petuah lama)

BERBUAT BAIK BERPADA-PADA,
BERBUAT JAHAT JANGAN SEKALI.

"Berbuat baik berpada-pada, berbuat jahat jangan sekali". Peribahasa lama ini sudah jarang kita mendengarnya, seiring dengan berubahnya peradaban dan arus negatif dari globalisasi. Banyak orang menyebut bahwa sekarang adalah peradaban modern. Tapi malang, banyak hal positif dari masa sebelumnya turut ditinggalkan. Segala hal yang terkait ketertinggalan mereka sebut kuno, lama atau jadul (jaman dulu). Sungguh disayangkan, banyak orang akhirnya tidak memperdulikan kebermanfaatan dari sebuah pengajaran lama melalui peribahasa.

Sebagai guru di sekolah, saya dapat menilai bahwa fungsi peribahasa sebagai nasihat sudah tidak lagi dipentingkan. Bertambah malang, tidak banyak lagi yang mampu mengulang peribahasa itu, baik dari kalangan sebagian guru, apalagi siswa secara umum. Sementara pada kurikulum sebelum ini, peribahasa bukan hanya sebagai materi ajar di sekolah, namun banyak digunakan dalam percakapan formal dan nonformal.

Apa yang terlihat saat ini, ketika peribahasa atau kalimat berkias tidak lagi digunakan? Ternyata banyak orang yang berbicara lugas (secara terang-terangan), sehingga terdengar sangat tidak berpatutan. Mereka mengabaikan rasa segan silu dalam berucap dan bertingkah laku. Kesadaran untuk mengedepankan keluhuran budi pekerti mulai menipis. Ini pada akhirnya akan melahirkan generasi-generasi tidak mau perduli (acuh tidak acuh, keras, dan suka membangkang. Kita sedang merindukan kesantunan itu sebagai ciri khas adat ketimuran di negeri ini.

Lihat lagi apa yang terjadi saat ini! Adakah kita semua tidak merasakan bahwa komunikasi yang terjalin antara guru dan siswa kita ada yang salah? Siswa tidak santun, bicara dengan meninggikan suara terhadap guru, membuang muka saat dinasihati, atau memintas (menyela) perkataan guru dengan kasar. 

Apakah yang telah hilang di tengah-tengah kita saat kita berramai-ramai berkeinginan melakukan pendidikan anak yang berkarakter? 

Bersambung ...

Rabu, 27 Oktober 2021

PEMBERIAN BERBUAH KEBAIKAN

Masya Allah... Baru saya menyadari ada sesuatu yang mengalir jadi pahala bagi sang pemilik (mushaf) Alqur'an yang saya baca ini. Semulanya, saya tidak mengira iklan media sosial tentang beramal melalui bagi-bagi Alquran ternyata sangat berarti. 

Bagaimana tidak, setiap saya memegang Alquran yang sudah lama dan terlihat lusuh ini, lalu membacanya lembar demi lembar secara berulang-ulang, ada pahala yang menyicil untuk seseorang yang meninggalkan Alquran di tangan saya. 

Saya menjadi sangat yakin dengan seseorang yang setelah sekian lama tidak saya temui itu, atau mungkin orang itu sendiri telah lupa pernah meninggalkan Alquran di suatu tempat untuk dibagikan. Atau mungkin pula ia tengah kehilangan Alquran miliknya. Kini orang itu mendapatkan kebaikan (pahala) dari Allah. Pahala yang diperolehnya, yang tidak akan pernah berkurang selama mushaf Alquran ini masih terus dibaca. 

Allah SWT berfirman:

مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” 
(Surat Al-Baqarah ayat 245)

Sedikit pun pahala memberi infak dan sedekah Alquran ini tidak mengurangi pahala bagi orang yang membacanya. Kini saya menyadari, menginfakkan Alquran atau yang seumpama dengannya termasuk amal perbuatan baik yang tidak pernah berhenti mengalir pahalanya. 

----

Mari berinfak dan sedekah. Semoga Allah mengganjar dengan pahala yang berlimpah. Aamiin!

Rabu, 22 September 2021

MENGEJAWANTAH PIKIRAN SANG GURU PUISI MULTIMEDIA, ASRIZAL NUR

MENGEJAWANTAH PIKIRAN SANG GURU PUISI MULTIMEDIA, ASRIZAL NUR


Pesan dalam Puisi
(Bagian 1)

Foto Ilustrasi : Asrizal Nur

Puisi itu memiliki pesan atau amanat. Pesan dapat bermakna harfiah (sebenarnya) atau yang bermakna tersirat. Makna tersirat, makna lain atau makna tersembunyi. Puisi yang di dalamnya penuh makna tersirat, terasa dan terdengar lebih kuat dan bahkan dapat membuka cakrawala berpikir yang luas.

Jika puisi itu adalah luahan perasaan, jawabannya, YES. Namun, tidak berhenti hanya meluahkan perasaan, mari kita mengubah pola dari meluahkan apa adanya menjadi ada apanya. Lalu menuangkannya dalam tulisan dan puisi. 

Jika saya menulis puisi hanya tentang diriku, tentang emosi kemarahanku, atau tentang rasa bahagiaku, saya justru tidak akan bisa berharap agar orang lain sepenuhnya menyukai pikiran yang terdapat dalam tulisan puisi saya. Karena dalam banyak situasi, seseorang lebih menyukai pikirannya sendiri untuk ditonjolkannya.

Foto Ilustrasi : Asrizal Nur

Puisi itu untuk dinikmati oleh pembaca dan pendengarnya. Bukan untuk dinikmati sendiri. Lalu buatlah puisi itu untuk bisa dinikmati orang lain. Maksudnya, puisi tidak semata-mata luahan jiwa, namun di dalam puisi lebih banyak mengandung pesan yang ingin disampaikan. 

Pesan itu, ruhnya puisi. Pesan dalam puisi juga sebagai nutrisi yang berfungsi memberi tenaga pada puisi. Sehingga pesan dalam puisi akan memberikan kekuatan yang membangun sebuah puisi. Sebaliknya puisi yang minim pesan akan terasa hambar di lidah, terdengar sumbang di telinga. 

Foto Ilustrasi : Asrizal Nur

Pikirkanlah pesan sebuah puisi sebelum menulis. Atau boleh juga bersambil pada saat dimulainya menulis. Ketika kita memulai memunculkan ide dari apa yang kita lihat dan pikirkan, ketika itulah kita mulai mencari dan mendapatkan ide. Batu, pasir, kerikil, gunung, dan pohon itu semua dapat dijadikan sumber ide yang akan melahirkan pesan (amanat).

Apa sajakah pesan yang bisa disampaikan dalam puisi? Ada banyak sekali pesan atau amanat yang bisa disampaikan dalam puisi.  Pesan atau amanat puisi bisa pesan kemanusiaan, pesan politik, pesan moral, dan sebagainya. Untuk membahas tentang penggolongan pesan/amanat puisi, akan menjadi sub topik pada pembahasan lain.

Foto Ilustrasi : Asrizal Nur

Setiap kata, diksi, atau kalimat yang dihasilkan dari pikiran kita, hendaklah kita olah berulang-ulang agar menghasilkan sebuah kata bermakna yang bukan kata itu sendiri. Masih adakah kata-kata(diksi) atau kalimat yang maknanya lebih dalam, maka pilihlah itu! Rasakan perbedaan maknanya, sambil tetap fokus pada tujuan mencari makna tersembunyi dari kata, diksi, atau kalimat tersebut.

Tidak perlu menjadi orang yang mahir hanya demi mengolah sebuah kata untuk menjadikannya lebih bermakna. Batu, pasir, kerikil, gunung, dan pohon misalnya bisa memiliki makna yang berbeda dari maksud awalnya. Batu, membatu bisa berarti kekerasan jiwa, kekuatan hati, kebekuan hati. Kerikil dapat pula berarti sandungan dalam kehidupan. 

Foto Ilustrasi : Asrizal Nur

Asyik sekali jika kita dapat menemukan makna turunan dari sebuah kata. Tanpa bertujuan untuk mengatakan hal yang sebenarnya dari kata itu. Ingat dalam puisi yang kita tulis, kita mencoba untuk menggiring pikiran kita, mengungkapkan sesuatu yang berbeda dari maksud sebenarnya. 

Begitu juga saat seseorang membaca puisi yang kita tulis. Ia akan memberikan apresiasi dan penilaian yang beragam sesuai yang dipahaminya. Semakin banyak pembaca dan pendengar memberikan apesiasi terhadap sebuah puisi karya kita, akan semakin baik pula kita memahami sisi kekurangan dan kelebihan kita. 

Di sebalik semua itu, yang pasti puisi yang kita tulis itu, jika belum dapat memenuhi rasa pada setiap orang, sekurangnya telah membuat kita mencoba mengasah kemampuan. Setidaknya pula, kita telah memiliki koleksi pikiran kita sebagai penanda kita pernah berada di masa tertentu dan tercatat sebagai penulis atau pengarang.

Dalam mengungkapkan perasaan, kita dapat mengolah kata-kata lewat apa yang kita lihat di alam atau pun benda-benda mati. Misalnya lewat batu, pasir, kerikil, gunung, atau pohon. 

Foto Ilustrasi : Asrizal Nur

Teruslah bicara tentang benda-benda mati tersebut. Misalnya pada kalimat "Membatu kerinduanku pada segara kasih-Mu,  Diam membisu menatap derai yang melebur pantai-Mu." Baris kalimat ini bisa saja ditanggapi beragam oleh pembacanya. Tetapi barangkali pengarang ingin menyatakan kegundahan hatinya tanpa ingin menyebutkan secara polos bahwa ia sedang gundah atau bersedih. 

Pengarang tidak menggunakan kata gundah dan sedih, namun kalimat puisi itu sudah menggambarkan kegundahan dan kesedihannya. Nah, yang demikian itulah yang dikenal sebagai makna tersembunyi yang akan menjadi pesan tersirat dalam puisi.

Bahasa Indonesia ini kaya akan kata dan makna. Jika kita menemukan kata yang lebih bermakna dari kata yang kita tulis semula, kenapa tidak kita ganti saja? Teruslah lakukan sampai kita meyakini tidak ada celah yang dapat meruntuhkan bangunan puisi kita.

Puisi yang sarat pesan, tidak hanya akan membuat pembaca atau pendengar terkagum-kagum. Mereka akan memberi apresiasi lewat ucapan dan komentar yang dapat menguatkan bagi penulis puisi. Hal ini tentu akan menjadi masukan berharga baginya. Sama ada masukan itu berbentuk kritikan atau saran, yang pasti hal itu akan sangat bermanfaat bagi kita dalam belajar mengukir kemampuan berpuisi.

Kini perpuisian Indonesia telah berevolusi dengan pembaruan-pembaruan. Sehingga muncul penyair-penyair baru dan tatanan baru yang lebih luwes dalam mengeksporasikan puisi. 

Para penyair tampaknya tidak lagi harus terperangkap dengan gaya-gaya lama yang terkesan membosankan. Kita bisa belajar dari Bang Asnur?  Saya merasakan kebaikan dan mendapat banyak pencerahan. 

Di sini, kita tidak saja bisa menggali ilmu dari apa yang dilakukan oleh para pembelajar, tetapi kita dibimbing oleh ahlinya. Terutama sang Motivator, Bang Asrizal Nur yang ramah. Izinkan saya menyebut beliau sebagai sang Inspirator.

Saat kita menayangkan puisi hasil karya kita,atau mencoba unjuk kebolehan dengan berdeklamasikan puisi, kita akan sangat mengharapkan apresiasi dari banyak orang. Apresiasi yang memberikan nafas pada tulisan kita.

Apresiasi dari pembaca dan pendengar itu adalah wujud dari sebuah perhatian. Setiap orang pun memiliki kemampuan yang berbeda dalam memberikan apresiasi. Tergantung bagaimana mereka memahami atau memaknai isi puisi yang dibaca atau didengarnya. 

Bukan masalah dengan apresiasi atau kritikan yang beragam. Pada akhirnya, semua bisa menjadi sangat berarti untuk perbaikan dan demi kemajuan kita. Jangan pesimis jika mendapat kritikan atau bahkan bila seandainya tidak ada yang mengomentari. Optimis saja, berpikiran positif saja. Katakan dalam diri bahwa aku menulis bukan untuk berharap pujian. 

Setiap kata dalam puisi dipilih dari kata-kata yang mudah dicerna maknanya. Koherensi antara larik serta bait yang saling mengikat. Tidak mengambang atau terdengar berbunyi sumbang. 

Begitulah seni dalam puisi. Kata-kata/ diksi dalam puisi memiliki makna yang bukan kata itu sendiri. Begitu pula yang dimaksudkan oleh Bang Asnur. Kita bisa mengasosiasikan kucing sebagai penguasa, tikus sebagai koruptor. Atau kemarau sebagai kesulitan dan mendung sebagai kedukaan. Jika satu langkah ini kita mampu memahaminya, sudah tentu kita akan dapat melangkah lebih baik lagi ke depannya. 

Tetap semangat menimba ilmu selagi kesempatan masih terbuka.

Salam literasi.
Hamdani



Selasa, 02 Februari 2021

TUHAN BERI AKU WAKTU

TUHAN BERI AKU WAKTU

Tuhan 
Jika kebahagiaan
Adalah harta berlimpah
Berilah aku bumi, langit juga

Tuhan
Jika kebahagiaan 
Adalah jabatan yang tinggi
Jadikan aku penguasa di dunia

Tuhan
Jika kebahagiaan
Adalah paras yang indah
Berikan aku kekasih yang jelita 

Tuhan
Jika kebahagiaan
Adalah kematian diri
Jangan cabut dulu nyawaku.

Tuhan 
Aku belum siap
Ada dosa yang  membelenggu 
Menghalangi jalanku menuju rahmat-Mu

Karimun-Kepri, 010221

Minggu, 31 Januari 2021

 Tuhan

Jika kebahagiaan
Adalah harta berlimpah
Berilah aku bumi, langit juga

Tuhan
Jika kebahagiaan
Adalah jabatan yang tinggi
Jadikan aku penguasa di dunia

Tuhan
Jika kebahagiaan
Adalah paras yang indah
Berikan aku kekasih yang rupawan

Tuhan
Jika kebahagiaan
Adalah kematian diri
Jangan cabut dulu nyawaku.

Tuhan
Aku malu
Ada dosa yang membelenggu
Menghalangi jalanku menuju rahmat-Mu

Kamis, 28 Januari 2021

GAGAL PAHAM

 

Foto Ilustrasi : bookriot.com/


Baru setengah jalan tulisanku kutorehkan, imajinasiku terhenti. Aku kehilangan ide dan sangat mengantuk. Belum sempat terlelap aku terbangun karena dikejutkan suara hentakan meja yang keras. Oh, buku yang kutulis tadi terlempar ke lantai. Kupungut kembali lalu kubaca sebelum akan melanjutkan ideku.

 Sekali lagi aku terkejut. Isi tulisanku mengapa berubah? Astaga, tokoh antagonis dalam cerita yang kutulis itu yang merubah ideku. Ia marah aku membeberkan keburukannya. Ia menghardik dan menyemprotku dengan kata-kata pedas. Wah, kok, bisa dia bicara. Inspirasi dan kreativitasku mau dikekang olehnya.

Dia ingin mengatur tulisanku. Aku katakan padanya,"Hei... Bung. Di sini aku yang lebih tahu tentang dirimu!" Tidak! Dia masih marah dan menunjukkan perlawanannya terhadapku. Dia bahkan mengancam akan melaporkanku. Ah, menjengkelkan sekali! "Aku capek denganmu!" Lalu kutimpuki saja ia dengan tumpukan buku-buku di hadapanku. Ia pun mati. Kemudian aku pun tidur kembali. 

 

Paham! 😀

Senin, 18 Januari 2021

GURINDAM '21



GURINDAM ‘21

(Pengarang : HAMDANI, S.Pd.)

 

Pasal 1

 

Mengambil pendapat dalam mufakat

Jauhkan kerja caci dan hujat

 

Kalau majelis banyak menghujat

Di situlah tumbuh fitnah dan umpat

 

Mengambil pendapat dalam mufakat

Dengki dan khianat jangan dibuat

 

Barang siapa yang dengki khianat

Payah hidupnya sepanjang hayat

 

Mengambil pendapat dalam mufakat

Berpikirlah cermat, jangan berdebat

 

Barang siapa suka berdebat

Tiada padanya beroleh berkat

 

Mengambil pendapat dalam mufakat

Kepada yang tua hendaklah hormat

 

Barang siapa yang tiada rasa hormat

Akal budinya, tiada bermanfaat

 

Mengambil pendapat dalam mufakat

Santunlah bicara, junjunglah adat

 

Tandanya bangsa yang beroleh rahmat

Pemimpinnya adil, rakyatnya selamat.

Sabtu, 16 Januari 2021

MENULIS TIADA HENTI

KEBAHAGIAAN ITU DIBANGUN, BUKAN DICIPTAKAN


Suatu ketika, saya membaca sebuah tulisan pendek yang berbunyi kebahagiaan itu harus diciptakan, bukan dicari. "Sangat setuju, tetapi ...."

Lalu saya langsung menelisik sang pembuat status di laman facebook miliknya itu. Oh, ternyata ia memang si pemilik kebahagiaan itu. Saya langsung meng-klik tanda like tanpa harus membaca hingga selesai apa yang ditulisnya. Saya percaya, orang itu memang pantas mendapatkan kebahagiaannya.

Namun beberapa saat setelah meng-klik tanda suka itu, imajinasi saya mulai bermain. Saya kembali membuat tulisan di kolom komentar di laman facebooknya itu. Menurut saya kebahagiaan itu dibangun, bukan diciptakan.

Kebahagiaan itu Allah yang menciptakan. Dan di sebalik itu, Dia juga menciptakan kesedihan. Jika dikaruniai kebahagiaan, manusia tentu akan merasa sangat senang dan bersyukur atas nikmat yang diberi oleh-Nya. Namun saat duka datang melanda, manusia banyak yang berputus asa dan bahkan mengumpat pada Tuhan. Na'udzubillahi min dzaliq. Semoga hal seperti ini tidak terjadi pada diri kita.

Kebahagiaan yang dirasakan oleh manusia itu berbeda-beda pula tingkatnya. Ada kebahagiaan semu, kebahagiaan sementara, dan kebahagiaan yang hakiki. Pastilah tidak ada kebahagiaan yang paling dirindukan yaitu kebahagiaan akhirat untuk mendapatkan balasan syurga dari-Nya.

Dalam konteks kebahagiaan yang dimaksud,
secara mendasar arti kebahagiaan itu adalah emosi positif yang dirasakan oleh seseorang. Begitu pula dari segi tindakan, menunjukkan aktivitas positif dari hal yang disukainya.

Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam memberi tuntunan tentang bahagia.

Dari Abu Hurairah r. a., Nabi Muhammad SAW bersabda:

"Kaya (ghina') bukanlah diukur dengan banyaknya harta atau kemewahan dunia. Namun kekayaan adalah hati yang selalu merasa cukup." (HR. Bukhari dan Muslim)

Kebesaran hati menerima pemberian Allah adalah kebahagiaan. Orang yang bahagia itu, ketika Allah memberinya kebaikan, ia bersyukur. Dan apabila diberi kesulitan, ia bersabar. Ketika diuji dengan permasalahan hidup, ia fokus pada Dzat yang memberikan masalah, yaitu Allahu Subhanahu Wata'aala.

Janganlah kita bergantung kepada makhluk dan berharap penuh dapat menyelesaikan permasalahan yang sedang kita hadapi. Tetaplah fokus pada pertolongan Allah. Karena Berharap pada makhluk dapat menyebabkan kita mengalami kekecewaan. Namun jika kita menerima setiap persoalan dan permasalahan dalam kehidupan ini dengan lapang dada, niscaya hati kita akan merasakan hadirnya kebahagiaan itu. Jangan mengeluh dan berburuk sangka pada-Nya. Sehingga kita mengumpat dan menjadi kehilangan kesyukuran pada-Nya.

Jalan kebahagiaan yang Allah bukakan untuk kita sangat luas terbentang. Ketika kita menghadapi kesusahan, bukankah Allah juga memberikan jalan ke luar?  Ia melepaskan sekian banyak kesulitan yang kita jalani agar kita senantiasa dapat bersyukur dengan segala nikmatnya.

Di dalam kesulitan ada kebahagiaan. Sebagaimana yang tertulis dalam Al Qur'an Nur Karim - Surat Al-Insyirah Ayat 5-6 :

"Karena sesungguhnya, sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan."

Saat kita diberi pertolongan oleh Allah dan terlepas dari kesulitan, itu adalah kebahagiaan. Kita sering melupakan, setrlah sekian banyak ia melepaskan kita dari kesulitan demi kesulitan.

Kebahagiaan dunia itu hadir dan pergi mengikuti suasana hati manusia. Lalu, apa yang kita inginkan dari kebahagiaan dunia? Yaitu kebahagiaan dunia yang mengantarkan kita kepada kebahagiaan akhirat.

Kita hendaknya menjalankan kehidupan ini dalam rambu-rambu kebaikan agar kebahagiaan itu senantiasa dapat kita peroleh. Sebaliknya jika kita ke luar dari rambu-rambu kebaikan, maka kebahagiaan yang kita peroleh hanyalah bersifat semu. Kebahagiaan seperti ini tidak akan membawa kita kepada kebahagiaan sesungguhnya, yaitu kebahagiaan yang kekal dan abadi.

Menurut saya, sebagai makhluk yang serba kekurangan, sudah tentu kita tidak bisa menciptakan kebahagiaan yang kekal dan abadi di muka bumi ini. Itulah sebabnya kita bukan yang menciptakan kebahagiaan itu.

Kebahagiaan itu dibangun bukan diciptakan. Karena kebahagiaan itu umpama benih yang akan tumbuh baik bila dirawat. Sebaliknya, kebahagiaan akan sirna jika kita tidak memperdulikannya. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita membangun kebahagiaan itu.

Bagaimana membangun kebahagiaan? 

Membangun kebahagiaan terlebih dahulu dimulai dari menata hati dan perasaan agar selalu bersangka baik dalam setiap keadaan. Kebahagiaan itu adalah hati yang mampu menerima setiap keadaan yang tercipta oleh kebesaran Tuhan. Berkeluh kesah hanya akan membuat kita semakin dirundung kesedihan. Tiada masalah yang dapat diselesaikan dengan kesedihan.

Segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak Allah,Tuhan yang yang telah menciptakan. Bersyukur dan bersabar serta melakukan pengamalan agama yang sempurna, adalah jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat

Wallahu a'lam bishshowab

Kamis, 14 Januari 2021

MENULIS TIADA HENTI (BAGIAN 4)


Bagian 4.

MENGGALI MUTIARA HATI DAN PIKIRAN
(PENULIS : HAMDANI, S. Pd.)

Kebaikan yang terbersit dalam pikiran itu  bagaikan mutiara yang terpendam di dasar lautan. Ia ada tetapi tidak terang kelihatannya. Mutiara yang bertaburan di dasar lautan itu belum dapat memberikan kebaikan bagi banyak orang banyak jika masih tenggelam di dasar lautan. Namun ketika mutiara itu diangkat ke permukaan, dipandangi, dan atau digunakan oleh banyak orang, maka barulah ia akan memberikan banyak manfaat. Ia akan semakin bernilai dan dihargai oleh banyak orang.


Begitu pula halnya dengan ide-ide brillian yang terpendam dalam hati dan pikiran seseorang. Ide yang terpendam itu hanya dapat memberikan sedikit manfaat bagi orang yang memilikinya. Namun mungkin tidak bagi yang lainnya. Karena selama ide itu tidak dimunculkan, selama itu pulalah orang lain tidak mengetahui sinar yang terpancar dari 'mutiara' hati dan pemikiran seseorang tersebut.

Angkatlah ide tersebut ke permukaan dengan cara menuliskannya menjadi berbagai bentuk tulisan. Jadikan ia cerpen, novel, opini, puisi, pantun, syair, gurindam, essay, dan banyak lagi lainnya. 

Kini, seiring berjalannya waktu,  ada sebuah genre tulisan yang sedang populer, yaitu menulis Pentigraf (Cerpen Tiga Paragraf).Cara membuatnya sangat mudah dan simpel. Hanya tiga paragraf dengan tiga pikiran pokok atau pikiran utama. 

Jangan mengatakan, "Saya tidak memiliki ide." Karena begitu mudahnya memunculkan sebuah ide, sama mudahnya seperti kita sedang meng-klik tombol keyboard di laptop atau keypad di ponsel. Secepat itu pula tulisan kita akan muncul di layar monitor mengiringi alur positif yang ke luar dari  pikiran kita.

Jangan khawatir tulisan kita tidak bakal menarik. Karena menulis itu juga umpama menanam tanaman, tidak mungkin akan langsung berbuah. Tanaman itu setelah tumbuh hendaknya rajin diberi pupuk dan disiram. Tidak hanya itu, tanaman juga harus disemprot insektisida agar bebas dari serangan hama. Nah, tidak sedikit bukan? Artinya, tiada suatu pekerjaan yang boleh kita anggap enteng. Suatu pekerjaan akan memperoleh hasil yang baik apabila dilakukan dengan cermat dan teliti.

Hasil tulisan akan bernas apabila kita tidak bersikap asal-asalan dalam membuatnya. Tulisan yang dibuat asal-asalan sebaiknya jangan diorbitkan dulu dan harus diteliti ulang. Jangan pula dibuang tulisan yang sudah susah payah kita buat itu,   melainkan disimpan saja menjadi draft yang bisa dikerjakan kembali saat ide kita mengenainya kembali muncul.

Hmm, rupanya ide itu memang tidak sekali muncul. Untuk bisa menyudahi sebuah tulisan dengan cepat, ibarat kata orang, telur ayam itu dieramkan dulu baru ia akan menetas menjadi ayam. Tidak mungkin ayam bertelur langsung menetas, bukan? Sama juga kita tidak berharap tulisan kita langsung jadi tanpa melalui proses terlebih dahulu. 

Saya menemukan tulisan yang saya buat dengan tergesa-gesa akhirnya mendatangkan banyak kesalahan. Oleh karena itu, lama waktu yang terpakai dalam menyelesaikan sebuah tulisan bukanlah masalah. Karena dalam menulis yang baik, kita bukan mengejar kuantitas melainkan kualitas. Lagi pula, sebagian besar tulisan yang kita kerjakan itu, bukanlah sesuatu yang terburu waktu. Kita bisa mengerjakannya dengan santai dan lempang dalam berpikiran. Sekali lagi, bertenang dan tidak tergesa-gesa adalah kunci dalam mencapai sebuah hasil yang baik.

Selamat berkarya!

Rabu, 13 Januari 2021

MENULIS TIADA HENTI

NIATKAN MENULIS UNTUK IBADAH
(PENULIS : HAMDANI, S.Pd.)

Bagian 1 :

Assalamualaikum dan selamat pagi sahabat dan handai taulan semuanya! 

Semoga pagi ini kembali cerah dan kita diberi kenikmatan dan rahmat oleh Allah. Aamiin. 

Pagi ini saya akan berbagi tentang menulis, opini yang berjudul "Niatkan Menulis untuk Ibadah." Tulisan ini bersumber dari pikiran saya sendiri sambil saya belajar untuk menyampaikan ide lewat tulisan. Terima kasih dan semoga sahabat dan handai taulan semua sudi membacanya.

Saya menulis bukan bermaksud untuk mencari kepopuleran atau sensasi. Tapi ketika jemari ini mulai menulis, pikiran saya secara jernih menangkap tentang hal-hal yang baik untuk bisa saya pahami dan lakukan sendiri. 

Saya menemukan banyak kebenaran walau sesungguhnya saya belum sepenuhnya dapat melakukan apa yang saya pikirkan baik. Kebenaran itu coba saya ungkapkan dalam tulisan agar suatu ketika saya membacanya kembali, saya semakin memahami akan arti kebenaran itu. Kebenaran yang muncul dari dalam hati kecil saya. 

Sebenarnya, dalam diri setiap orang pasti mengetahui dan bisa melakukan banyak hal tentang kebaikan. Kebaikan yang muncul dalam pikirannya sendiri. Boleh dikatakan, bisikan hati kecil itu selalu ingin melakukan kebaikan dan kebenaran. Dari sebuah pikiran kebaikan itu akan melahirkan pemikiran kebaikan lainnya. 

Kita sering tidak menyadari bahwa selama seharian kita selalu memikirkan banyak hal tentang kebaikan. Andai sekalipun kita belum mampu melakukan hal kebaikan yang kita pikirkan itu, namun sekurang-kurangnya kita tidak pula berpikiran sebaliknya. Yaitu pikiran-pikiran yang jahat yang dapat menyesatkan dan menjerumuskan diri kita dan orang lain. 

Orang yang membiasakan menulis, pasti dalam pikirannya selalu muncul hal-hal yang baik-baik. Tidak mungkin ia akan menuliskan sesuatu yang buruk untuk diikuti oleh orang lain. 

Tentulah kita mengerti bahwa tulisan yang baik lalu diikuti oleh banyak orang akan mendatangkan pahala. Namun sebaliknya, jika tulisan yang mengajak orang untuk melakukan keburukan, maka hasilnya pasti lebih buruk dan berujung dosa.

Yang penting diperhatikan dalam menulis, cobalah untuk mengangkat ide-ide dari pikiran sendiri. Bukan semata-mata berasal dari pikiran orang lain yang kita kopi paste. Walau itu juga baik dan bukanlah salah, tapi jika itu berasal dari pikiran serta hati nurani kita sendiri, tentu akan jauh lebih baik.

Selamat berkarya! 

Senin, 11 Januari 2021

BELAJAR DARING DI PERSIMPANGAN JALAN?

BELAJAR DARING DI PERSIMPANGAN JALAN?

Bagian 1 

(Penulis : Uu. Hamita)

Sebelum ini, saya mengira dunia pendidikan kita akan menemukan terobosan baru dan jitu akibat terdampak oleh wabah Corona yang semakin besar. Demi Zat yang dunia ini berada dalam genggamannya, marilah kita selalu berdoa semoga pandemi ini cepat berlalu. Karena penderitaan dan kesedihan yang ditimbulkannya sudah sangat banyak dan tidak tentu akan berakhirnya.

Saya merasa sangat optimis kala mendengar paparan ide kreatif Mas Menteri. Ini akan membuka peluang reformasi di bidang pendidikan. Pembaruan yang digadang-gadangkan oleh Mas Nadiem sejak awal programnya menjabat menteri pendidikan, terasa oleh saya akan membawa spirit baru. Namun belum berapa lama dalam hitungan hari, gonjang ganjing tentang permasalahan baru yang akan ditimbulkan oleh sistem belajar online atau daring bermunculan di mana-mana. Begitu cepat dan beragam pendapat hadir mengemuka di tengah-tengah kita.

Pro dan kontra terus bergulir dalam forum pembicaraan baik formal maupun non formal. Para pemikir dan praktisi pendidikan turut memberi masukan dan kritikan terhadap program tersebut. Dapat dilihat secara umum bahwa belum semua kalangan memandang positif program yang akan dijalankan.

Namun pada prinsipnya, sumbangsih pemikiran itu adalah demi meningkatkan kualitas atau mutu program yang dimaksud. Sangat penting kita mendengarkan masukan dan kritikan dari banyak pihak supaya pada akhirnya kita bisa menemukan sebuah formulasi terbaik dalam mengembangkan pendidikan ke depan.

Program Belajar Jarak Jauh (PJJ)  memberikan jawaban atas permasalahan pembelajaran di lembaga-lembaga pendidikan baik formal maupun nonformal. Ketika belajar tatap muka tidak dimungkinkan dapat dijalankan saat ini, sistem belajar online (daring) dinilai sangat tepat untuk dapat memutus mata rantai penyebaran virus covid-19.

Namun lagi-lagi, plus minus dari setiap metode dan sistem selalu saja muncul. Masalahnya cukup komplit. Pembelajaran tidak hanya memandang bagaimana meningkatkan mutu pendidikan, tetapi masalah lain yang berkaitan dengannya, seperti kesiapan pemerintah, faktor ekonomi keluarga, dan faktor budaya menjadi pengaruh besar yang menghambat percepatan program yang akan dijalankan.

Pergerakan reformasi pendidikan Akhir-akhir ini terkesan mulai melambat. Ini terlihat dari kepanikan yang dimunculkan oleh sebagian besar kalangan, terutama  siswa dan orang tua. Para orang tua kelimpungan mengantarkan anaknya untuk menjalankan belajar dengan sistem online. Dimulai dari isyu anak tidak ada paket internet, gagap teknologi, signal hilang, serta hal yang terberat lainnya yaitu tidak punya android karena tidak mampu membelinya. Dan banyak lagi persoalan lainnya yang dapat menjadi faktor penghambat bagi tercapainya pelaksanaan belajar mengajar modern yang lebih menyenangkan.

Kontroversial terus mengemuka, juga datang dari kaum guru sendiri. Kurangnya pembekalan kepada guru dalam memahami teknik dan tata cara menjalankannya, memunculkan inisiatif yang beragam di sekolah-sekolah. Ini menjadi kelemahan program karena masing-masing sekolah berbeda perlakuan dalam menjalankannya. Namun secara normatif, keputusan yang diambil pihak sekolah adalah berdasarkan pertimbangan keamanan dan kesehatan. Yaitu ingin memutus mata rantai penyebaran virus covid-19.

Kini, mau dibawa ke mana program yang besar dan diyakini bisa membawa perubahan ini? Tantangan globalisasi telah mengharuskan kita masuk ke dalam sistem baru dan modern demi sebuah perubahan besar. Apa lagi saat ini, dikenal era Industri 4.0. Konsep penerapan yang berpusat pada konsep otomatisasi teknologi, tanpa memerlukan tenaga kerja manusia dalam proses pengaplikasiannya. Jika nilai efisensi pada suatu lingkungan kerja telah mulai diberlakukan, tentu akan berdampak semakin sempitnya peluang pekerjaan.

Oleh karena itu, kita semua harus menyadari penggunaan perangkat Informasi dan Telekomunikasi (IT) harus dimulai sejak dini di berbagai pelosok tanah air. Siswa-siswa belajar melalui internet agar ke depannya mampu lebih berkreasi. Jika terdapat faktor-faktor negatif dalam pengunaannya, itu adalah bagian dari tantangan hingga kita kembali menemukan formulasi yang baik dalam mengatasinya.

Semoga ke depannya, tiada lagi generasi kita yang gagap teknologi, khususnya dalam menggunakan gawai atau peranti kecil bernama gadget, android,dan lapotop. Atau sekadar mencari-cari alasan klasik yang menjadikan kita semakin tertinggal. Dunia terus mengalami arus globalisasi. Semoga kita mendapatkan kebaikan atas perkembangan sain dan teknologi maju sekarang ini. 

....

Rabu, 09 Desember 2020

NADA CINTA DAN KEDAMAIAN

 

NADA CINTA DAN KEDAMAIAN

Keharmonisan cinta terlahir dari rasa saling pengertian dan kasih sayang. Keharmonisan itu akan melahirkan kedamaian dan ketenteraman di dalam hati.

Do

:

Kita ini adalah satu dalam membangun ritma kehidupan, harmonisasi dan gerak langkah yang indah. Tinggi dan rendah adalah khazanah seni. Setiap perbedaan merupakan dawai yang mampu melepaskan getaran cinta dan kedamaian.

Re

:

Bentar dulu, masalahnya ada saja simpang nada yang sumbang. Harmonisasi tak akan wujud jika nada tidak  selaras.

Mi

:

Ya, kita memang sering tak mengerti tentang syair kehidupan. Ataukah kita memang tak mau mengerti?

Fa

:

Jangan salahkan kehidupan. Masing-masing kita adalah tuts yang diberi karunia untuk   menyuarakan harmonisasi dan keselasan. Kita mestinya mengambil peran masing-masing agar kita mampu menciptakan kedamaian dan ketenteraman bagi kehidupan.

Sol 

:

Benar, siapakah lagi jika bukan kita yang mewujudkan harmonisasi itu? Setiap kita mesti mampu menyuarakan kedamaian. Membuang rasa ego yang dapat melahirkan kebencian dan permusuhan di antara kita.

La:

:

Masihkah kita bisa bersama lagi, setelah sekian lama ritma dan gerak langkah kita terperangkap dalam perbedaan?

Si

:

Jangan pesimis dan tetaplah optimis! Dengan perbedaan itu kita telah menghasilkan berbagai simfoni kehidupan. Teruslah laungkan suara kedamaian agar sirna segala kebencian dan permusuhan.

Do

:

Benar! Kita ini adalah satu dalam membangun ritma kehidupan, harmonisasi dan gerak langkah yang indah. Tinggi dan rendah adalah khazanah seni. Setiap perbedaan merupakan dawai yang mampu melepaskan getaran cinta dan kedamaian. Mari kita terus menggaungkan semangat persahabatan dan kasih sayang di antara kita. Agar tercipta syair-syair kehidupan yang indah dan menenteramkan.

 

Selasa, 08 Desember 2020

MEMUAT IDE TULISAN DARI FORUM PERCAKAPAN GRUP

Lihat, bagaimana saya tidak kehilangan ide menulis!

Semula, saya sering tidak percaya diri jika ide yang akan saya munculkan bisa diterima oleh banyak orang. Sebaliknya saya merasakan tulisan saya sangat buruk. 

Ada juga perasaan jika tulisan saya akan dicemooh oleh banyak orang. Lalu, niat mengunggah tulisan saya pending. Bagaikan memeram mangga yang masih hijau, entah kapan akan masak dan enak bila dimakan. Tulisan menjadi tumpukan draf yang memenuhkan memori hape atau laptop. 

Kadang-kadang saya pun heran melihat orang lain bisa menulis tanpa jeda. Tulisannya berisi tentang apa saja. Satu kalimat pun bisa ditampilkannya menjadi sebuah tulisan. Idenya mengalirkan sejuta kreatifitas di dalamnya. Kadang-kadang tulisan itu enak dibaca dan kadang-kadang juga tidak. 

Rasanya saya akan berpikir dua kali untuk memposting tulisan yang saya anggap tidak mutu. Tapi pernah saya mendengar dan membaca dari sebuah forum menulis, jika tulisan yang kita tayangkan ternyata dianggap tidak bermutu oleh beberapa orang, biarkan saja. Kita tidak tahu oleh beberapa orang yang lain dan di waktu dan tempat yang lain, tulisan kita itu justru sangat dicari dan ditunggu untuk menjadi sumber ide/pemikiran bagi mereka. 

Pembaca tidak seorang. Pembaca terdiri dari banyak kalangan. Kepentingan membaca pun berbeda-beda pula. Membaca ada yang dijadikan sebagai sumber ilmu, sumber inspirasi, atau hanya sekedar untuk menyalurkan hobi membaca di waktu-waktu santai. 

Ada satu trik untuk memuat ide menjadi sebuah tulisan. Di mana kita tidak perlu repot dalam mengumpulkan ide, bahan, atau data yang hendak ditulis. Akurasinya pun bisa dipercaya karena itu bukan pemikiran sendiri. Sebagaimana yang dikhawatirkan oleh banyak pemula tentang ide/ pemikirannya sendiri, muncul dengan sangat buruk. 

Anda bisa mengambil bahan untuk tulisan Anda dari grup-grup Anda sendiri di facebook, whatsapp, atau lainnya. Di situ sudah pasti para anggotanya tak berhenti dengan berkomentar. Dari pada hanya memenuhi memori Anda lalu Anda hapus. Jadinya sia-sia, bukan? Lebih baik Anda me-resume-kannya menjadi tulisan yang berarti. 

Akan ada banyak kebaikan yang bisa Anda peroleh darinya. Di sini Anda hanya perlu mengemas pemikiran orang lain. Pemikiran yang tidak pernah Anda minta sebelumnya.  Karena ia muncul sendirinya dari sebuah ide kecil yang berkembang di dalam forum. 

Jika Anda memiliki banyak grup, baik di fb, whatsapp, instagram, dan lainnya itu akan sangat membantu. Walau andai sekalipun Anda tidak ikut nimbrung dalam percakapan di grup, cukup dengan mengintip saja, Anda sudah memiliki peluang yang banyak untuk menjadikannya tulisan Anda. Syaratnya, copy-paste seluruh isi percakapan atau sebagian yang penting saja, lalu Anda edit dan jadikan ia tulisan yang padu, atau tulisan yang sederhana satu halaman, dua, tiga, atau satu buku sekaligus. 

Anda sekarang telah memulai membangun tulisan Anda dari pikiran orang lain. Ini sangat mungkin bisa dilakukan jika Anda sendiri sedang tidak memiliki ide untuk menulis. 

Rangkaikan percakapan satu dengan lainnya menjadi kalimat-kalimat tidak langsung. Lalu jadikan ia dalam bentuk paragraf. Setelah itu paragraf demi paragraf. Maka sampailah Anda pada sebuah tulisan sederhana dalam bentuk artikel, fiksi, argumentasi, dan lain sebagainya. 

Semoga tulisan yang singkat ini dapat menjadi inspirasi bagi kita semua. Sekian dan terima kasih. 

Kamis, 19 November 2020

ROTI KUBO

Sebuah Opini : Tinjauan Umum Tentang Sebuah Usaha Produksi yang Tak Pernah Mati


"Roti Kubo". Mendengar namanya yang asing dan menggelitik di telinga, tekak ini seketika akan dibuat berubah. Seperti menolak, tekak ini pun akan enggan dipujuk untuk dapat berdamai atau sekedar memberi laluan aar keping roti ini bisa segera masuk ke lambung. Tidak lain ini karena sebutannya yang aneh, yaitu Roti Kubo. 

Roti Kubo atau Roti Kuburan. Ini menjadi sebuah penamaan yang terdengar cukup sadis tapi tak membahayakan. Panganan yang telah banyak memenuhi pasar dan terbuat dari adonan tepung gandum ini cukup "direndahkan" atas pemberian namanya. Padahal panganan ringan ini sangat membantu dalam melepaskan rasa lapar walau bersifat sementara.

Bayangkan jika tidak ada sesuatu yang bisa dimakan saat perut benar-benar lapar dan keroncongan? Tentu dengan membawa beberapa keping roti kering ini ke mana pun pergi bisa memberikan manfaat besar demi mengalas rasa lapar itu.

Kelihatannya orang-orang pada lupa kalau dalam banyak situasi, roti kering yang satu ini sangat membantu mengurangi rasa lapar. Roti ini memang tidak gurih bila dibandingkan dengan yang lain sederet dengannya. Walaupun bukan makanan pavorit dari segi cita rasa,  namun harganya yang murah menjadikan makanan ringan ini diburu banyak orang.

Barangkali, peluang pasarnya tak akan pernah mati. Saat banyak perusahaan bangkrut dan gulung tikar karena terdapak pandemi Covid-19, Roti Kubo ini masih terus nangkring di berbagai rak-rak penjualan di warung, toko, dan pasar.

Lihat bagaimana roti ini dijual? Penjualan roti ini mampu memenuhi seluruh pasar; kedai, warung, hingga ke toko swalayan di seluruh pelosok tanah air bahkan menjelajah dunia.

Harganya yang relatif rendah dan stabil membuat orang tak lupa memilihnya untuk bekal perbelanjaan yang akan dibawa pulang. 

Wah, tidak disangka dari membaca ini,  saya dan Anda mengenal strategi usaha yang besar dan dikemas secara sederhana. Yaitu, strategi produksi dengan mengolah bahan yang murah dengan penjualan yang juga murah. Bukan sebaliknya, memproduksi sesuatu dari bahan yang mahal sehingga penjualannya juga harus mahal. Sehingga banyak yang tak mampu membelinya.

Coba bandingkan ini dengan beberapa perusahaan makanan ringan lainnya, yang bangkit sebentar lalu tumbang akibat tak mampu menjangkau pasar bawah yang nota bene masyarakat umum kelas menengah ke bawah.

Roti crackers murah ini yang sering ditemui di pasaran tetap laku dijual walau pandemi Covid-19 melanda. Soal rasa memang tidak berubah. Kalau hendak dibilang tawar, ya, memang tawar. Namun, dua varian yang masih kekal, yaitu yang diberi butiran gula pasir di permukaannya dan ada yang tidak. Semua ini masih sangat laku dijual sebagai  makanan yqng dikonsumsi. Sudah terdapat pula varian baru dengan campuran kelapa sehingga sedikit lebih renyah.

Dengan begitu tampaknya, perusahaan yang  memproduksi barang dagangan ini sedikit telah mengubah strategi dengan memberikan cita rasa berbeda demi dapat menghilangkan imej roti kubo pada melekat padanya. Walau harganya sedikit dinaikkan tapi masih tetap bersahabat serta menjadi sesuatu yang wajar. Ini strategi keren juga. Mengubah cita rasa tetapi tetap memperhitungkan peluang pasar.

Dari dulu, penjualan roti kering ini tak pernah berhenti. Tanpa disadari, sudah lama sekali ini diproduksi.

Soal nama atau sebutan, roti ini memang terdengar memiliki nama yang beragam di setiap daerah. Persoalannya, para pembeli memang tak dapat menyebutkannya secara pasti nama produk makanan ini karena ia tidak memiliki nama yang khas. Sama halnya, orang lebih mengenal Aqua untuk menyebutkan air mineral kemasan yang banyak dijual. Padahal, Aqua itu adalah merek dagang. Begitu pula orang menyebut kendaraan roda dua sebagai honda. Padahal lagi-lagi ini adalah merek sebuah produk dagang. 

Roti ini ada pula yang mengenalnya dengan sebutan Roti Gabin. Sekelumit sejarah penamaan "gabin" ini, dulu ini dinamakan dengan "cabin biscuits". Biskuit yang akan disajikan kepada para penumpang kapal yang berada di dalam kabin sebagai panganan ringan di kapal.

Cabin Biscuits berubah menjadi Roti Gabin. Begitulah akhirnya panganan ini menjadi berubah sebutannya karena disesuaikan dengan lidah orang Indonesia.

Namun, apa yang terjadi dari beraneka penamaan roti crackers ini? Setiap penamaan yang muncul tampaknya tak ada yang istimewa. Sehingga setiap nama yang melekat padanya, hanya terkesan ingin memberitahu tentang harganya yang murah bersahabat. Tidak neko-neko karena bisa siapa saja yang ingin mencobanya. Silahkan menikmati atau merasakan sensasi apa yang dimilikinya. Hehe... 

Upps.., tapi ada juga yang menarik, nih! Dengan memakan roti kering ini, beberapa kalangan dari generasi legend jadi dapat mengingat kembali masa silamnya yang sudah berpuluh tahun ditinggalkan.

Roti ini sudah diproduksi lama sekali. Hehe..,  barangkali pada zaman penjajahan sudah ada. Dengan memakannya juga, seakan mampu membuka lembaran nostalgia masa lalu yang tak dapat terekam baik dalam hape atau pun laptop. Tidak seperti sekarang ini, jeprat jepret sana  sini sudah bisa diabadikan melalui berbagai aplikasi internet.

Lagi-lagi berbicara nasib Roti Kubo selalu jadi sebutan yang remeh dan menjadi bahan tertawaan bagi banyak orang. Padahal, roti kering ini bisa lesap dari bungkusnya dalam sekejap. Bayangkan, roti sebungkus orang yang mengambilnya ada sepuluh orang.  Hehe... Cara makannya yang bisa dilakukan sambil duduk dan berdiri, membuat panganan ini tidak harus disisakan.

Sementang pun (walaupun) pemberian namanya yang beragam dan aneh, tidak berarti orang yang mengonsumsinya terbatas untuk orang-orang tertentu saja.  Dari kalangan bawah sampai tingkat atas pun banyak yang sudah menjadikannya sebagai cemilan.

Saat dalam keadaan lapar, siapa yang akan tahan sementara roti kering ini dengan senyumnya mempersilahkan dirinya untuk dijamah dan mencicipinya. Siapa pun tentu pula akan memanfaatkannya demi bisa mengalas perut. Dua tiga keping roti, jelas akan bisa bertahan dalam satu dua jam ke depan.

Kue kering yang lugu ini ada pula yang menyebutnya dengan sebutan roti jagung. Walaupun sebenarnya roti ini tidak berbahan tepung jagung tetapi gandum. Penamaan ini mungkin akibat salah menafsirkan terhadap gambar yang terdapat pada bungkus roti, yaitu bunga gandum yang disangka bunga jagung. Maklum, gandum tidak populer ditanam di Indonesia sehingga banyak masyarakat yang tidak mengenalnya.

Roti yang cukup kalori ini, sangat baik dikonsumsi. Kemasannya yang praktis dan aman bisa dibawa kemana-mana, bisa juga untuk dibawa berpiknik, pergi bekerja ataupun sebagai buah tangan.

Kesimpulannya, terkait masalah penamaan yang banyak diperkatakan oleh konsumen terhadap sebutan roti kubo tidak akan terlalu berpengaruh sehingga dapat menurunkan omset penjualan. Yang terpenting adalah produk makanan ini tidak boleh mengandung unsur dari bahan-bahan yang berbahaya bila dikonsumsi.

Selanjutnya,  masalah cita rasa tergantung dengan lidah seseorang. Tawar, manis, asam, asin, dan pahit adalah hal yang relatif. Saat seseorang mengatakan suatu makanan yang dirasakannya itu tawar atau asin, justru banyak pula orang yang mengatakan sebaliknya. Jadi, sebuah hikmah yang dapat dipetik adalah tentang peluang tetap terbuka dalam membangun dan mengembangkan usaha. Sementara kita bisa melakukan sebuah usaha, mengapa tidak mencoba dan melakukannya. Jangan putus asa sebelum kita benar-benar memiliki peluang yang terbaik dan memberi keuntungan.